REVIEW – THE FANTASTIC FOUR: FIRST STEPS (2025) | VISUAL MEMUKAU, CERITA MENGECEWAKAN

THE FANTASTIC FOUR: FIRST STEPS (2025)

Pedro Pascal (Reed Richards/Mister Fantastic), Vanessa Kirby (Sue Storm/Invisible Woman), Joseph Quinn (Johnny Storm/Human Torch), Ebon Moss-Bachrach (Ben Grimm/The Thing), Ralph Ineson (Galactus), Julia Garner (Silver Surfer/Shalla-Bal), Paul Walter Hauser, Natasha Lyonne, Sarah Niles, Mark Gatiss

Sutradara: Matt Shakman | Produser: Marvel Studios, Walt Disney Pictures | Genre: Action, Adventure, Sci-Fi | Durasi: 142 menit | Tanggal Tayang: 25 Juli 2025


 

Mengambil setting di tahun 1960-an Earth 828, film ini bercerita tentang keluarga superhero pertama Marvel yang sudah memiliki kekuatan dan harus berhadapan dengan ancaman dari musuh level kosmik. Reed Richards bersama Sue Storm, Johnny Storm, dan Ben Grimm menghadapi kedatangan Galactus makhluk raksasa pemakan planet yang membawa serta Silver Surfer sebagai pembawa pesannya. Tim ini harus menemukan cara menyelamatkan Bumi sambil menjaga ikatan mereka sebagai keluarga, terlebih ketika Sue tengah mengandung anak pertama mereka yang menambah kompleksitas emosional dalam misi penyelamatan ini.


Awal film ini sangat menjanjikan. Setting retro-futuristik era 60-an yang dihadirkan sungguh memanjakan mata. Seperti memasuki halaman-halaman komik lama yang mendadak hidup dengan detail yang luar biasa. Desain properti, teknologi kuno-futuristik, dan nuansa keseluruhan memberikan sensasi nostalgia yang kuat dan membuat saya berpikir film reboot ini mungkin benar-benar memahami materi sumbernya.

Namun seiring cerita bergulir, berbagai masalah mulai bermunculan. Alurnya sebenarnya tidak rumit: Galactus datang untuk menghancurkan Bumi, Fantastic Four harus mencegahnya. Sayangnya pelaksanaannya penuh dengan keputusan naratif yang meragukan dan celah logika yang mengganggu.

Mari bicara soal Reed Richards yang konon adalah orang dengan kepintaran luar biasa. Ironisnya, sepanjang film karakternya tidak menampilkan kecerdasan yang dijanjikan. Strategi andalannya untuk mengalahkan entitas kosmik sekuat Galactus? Menjebaknya masuk ke portal teleportasi dengan cara yang terasa seperti gimmick kartun lawas. Tidak ada perhitungan ilmiah yang kompleks, tidak ada strategi berlapis hanya trik sederhana yang terasa terlalu gampang untuk ancaman sebesar itu.

Ada juga pertanyaan besar yang tidak terjawab: mengapa Sue tidak menggunakan kekuatannya untuk mendorong Galactus masuk portal sejak awal? Dia punya kemampuan itu, dan ada momen di mana kesempatan itu terbuka lebar. Tapi film memilih menunda-nunda demi menciptakan klimaks yang dipaksakan. Ini bukan membangun ketegangan, ini hanya menutupi kelemahan penulisan dengan dalih dramatisasi.


Pedro Pascal yang biasanya cemerlang di berbagai perannya, kali ini kurang berhasil membawakan Reed Richards. Tidak terlihat kilauan intelektual atau ketegasan seorang pemimpin yang muncul justru sosok yang tampak kelelahan dan kusut seperti tidak tidur berhari-hari. Daripada genius scientist yang karismatik, Pascal lebih memancarkan aura akademisi yang sudah kehilangan semangat. Ini bukan interpretasi yang tepat untuk karakter seperti Reed.

Pascal memang menyentuh sisi emosional sebagai suami dan calon bapak, namun sebagai ilmuwan jenius dan komandan tim Fantastic Four, dia kehilangan gravitasi yang diperlukan. Tidak ada satu pun momen yang benar-benar membuktikan kehebatan intelektualnya.

Di sisi lain, performance Vanessa Kirby sebagai Sue Storm cukup menyelamatkan film ini. Dia menghadirkan kedalaman emosi dan kekuatan karakter yang sangat dibutuhkan, dan dengan cara yang hampir ajaib, dia membuat adegan-adegan paling tidak masuk akal tetap terasa real. Kirby praktis menggendong film ini dengan performanya yang layered, konflik batinnya sebagai pahlawan super yang sedang hamil, harus melawan ancaman global sambil memikirkan calon bayinya, semuanya tersampaikan dengan meyakinkan.

Joseph Quinn membawakan Johnny Storm dengan energi yang pas untuk karakter yang impulsif dan ceria. Dia punya interaksi yang natural dengan anggota tim lainnya. Ebon Moss-Bachrach sebagai Ben Grimm menampilkan sisi setia dan tragis karakternya dengan baik, meskipun tidak banyak mendapat kesempatan untuk berkembang. Julia Garner sebagai Silver Surfer menarik secara visual namun kurang diberi ruang untuk bereksplorasi sebagai karakter. Ralph Ineson memberikan voice acting yang mengerikan untuk Galactus, meski sebagai antagonis, Galactus lebih terasa seperti bencana alam ketimbang villain dengan dimensi.


Matt Shakman yang sebelumnya sukses dengan WandaVision seharusnya bisa membawa sentuhan unik untuk franchise ini. Ambisinya untuk menciptakan film dengan identitas visual retro dan atmosfer berbeda memang terlihat, namun terhambat oleh naskah yang tidak cukup kuat untuk menopang visi tersebut.

Shakman berhasil membangun dunia alternatif dengan tingkat detail yang mengagumkan, dan beberapa sequence action-nya memang spektakuler secara visual. Namun dia tidak mampu mengatasi cacat fundamental dari cerita yang tidak koheren. Ritme film juga bermasalah bagian awal terlalu berkutat pada dinamika keluarga yang kurang menarik, sementara bagian akhir terasa tergesa-gesa dengan penyelesaian yang tidak memuaskan.

Keputusan untuk menggambarkan Reed Richards sebagai sosok yang kurang kompeten dalam hal strategi adalah pilihan yang sangat aneh dan merusak esensi karakter tersebut. Entah ini keputusan sutradara atau memang dari naskah, tapi ini adalah kesalahan besar yang mempengaruhi keseluruhan film.


Aspek visual adalah kekuatan utama film ini. Desain retro-futuristik tahun 60-an benar-benar spektakuler. Mulai dari kostum, gadget teknologi, hingga bangunan semua terasa otentik namun tetap imaginatif. Pemilihan warna yang cerah dan jenuh menciptakan kesan optimisme era eksplorasi luar angkasa yang ikonik. Perhatian terhadap detail dalam production design sangat terasa, dan kita bisa melihat upaya besar untuk menciptakan realitas alternatif ini.

Efek visual untuk The Thing dan berbagai manifestasi kekuatan Fantastic Four umumnya berkualitas tinggi, meskipun ada beberapa momen di babak akhir yang terlihat kurang ok. Galactus divisualisasikan dengan skala yang benar-benar kosmik dan menciptakan kesan mengerikan.

Skor musik oleh Michael Giacchino memberikan theme heroik dengan orkestra yang megah. Dia berhasil menangkap semangat petualangan klasik era 60-an sambil tetap terdengar kontemporer. Theme untuk Fantastic Four cukup memorable meski belum mencapai level ikonik seperti theme superhero legendaris lainnya.


The Fantastic Four: First Steps adalah film yang sangat mengecewakan mengingat besarnya potensi yang tersedia. Tampilan visual yang menakjubkan dan konsep dasar yang menarik seharusnya menjadi landasan untuk karya superhero yang berkesan, tetapi eksekusi yang berantakan dan keputusan karakter yang tidak logis menghancurkan semuanya.

Permasalahan paling krusial adalah penanganan karakter Reed Richards. Mengubah sosok yang seharusnya jenius menjadi karakter yang tidak menunjukkan kecerdasan sama sekali adalah kegagalan mendasar. Strategi mengalahkan Galactus yang seperti logika kartun adalah penghinaan terhadap intelegensi penonton.

Sebaliknya, Vanessa Kirby membuktikan bahwa dengan pemeran yang tepat dan materi yang baik, karakter Fantastic Four bisa bersinar, sayangnya dia harus berjuang sendirian untuk menyelamatkan film ini.

Film ini seperti kesempatan emas yang terbuang percuma. Dengan gaya visual yang unik, anggaran produksi yang besar, seharusnya ini bisa menjadi sesuatu yang istimewa. Yang kita dapatkan justru film yang indah dipandang tapi hambar dalam substansi. Narasi yang lemah, logika karakter yang meragukan, dan ancaman villain yang tidak terasa serius membuat film ini sulit dinikmati bahkan sekadar sebagai hiburan ringan.

Rekomendasi: Film ini hanya layak untuk penggemar fanatik MCU yang ingin melengkapi koleksi atau mereka yang sangat menghargai design visual dan aesthetic semata. Kalau mencari cerita superhero yang cerdas dan engaging, lebih baik skip. Namun jika kamu tipe penonton yang bisa menikmati film murni dari segi visual tanpa terlalu peduli plot yang bermasalah, mungkin masih ada sedikit nilai hiburan di sini meski sangat terbatas. Ini bukan debut yang layak untuk Fantastic Four.