Review – F1 (2025) | Brad Pitt Aura Farming Sepanjang Film, Cerita Melempem

F1 (2025)

Brad Pitt (Sonny Hayes), Damson Idris (Joshua Pearce), Javier Bardem (Ruben Cervantes), Kerry Condon (Kate McKenna), Tobias Menzies (Peter Banning), Kim Bodnia (Kaspar Smolinski),

Sutradara: Joseph Kosinski | Produser: Apple Original Films, Plan B Entertainment, Jerry Bruckheimer Films | Genre: Action, Drama, Sport | Durasi: 140 menit | Tanggal Tayang: 27 Juni 2025


Sonny Hayes adalah legenda balap Formula 1 tahun 90-an yang dijuluki “yang terbaik yang tak pernah jadi juara” setelah karirnya nyaris berakhir karena kecelakaan besar di lintasan. Tiga puluh tahun kemudian, dia dibujuk kembali ke dunia F1 untuk memimpin tim underdog APXGP yang dipimpin mantan rekan setimnya. Di sana, Sonny harus menjadi mentor bagi Joshua Pearce, pembalap muda berbakat yang ambisius dan percaya diri.

Bersama Joshua, Sonny mencoba membuktikan bahwa mereka masih bisa bersaing melawan tim-tim besar dengan anggaran unlimited seperti Mercedes, Ferrari, dan Red Bull. Ini adalah kesempatan terakhir Sonny untuk mendapatkan glory yang selama ini luput darinya, sambil menghadapi rivalitas, politik tim, dan batasan fisiknya sendiri sebagai pembalap veteran.


Sebagai penggemar F1, ekspektasi saya untuk film ini sebenarnya tidak terlalu tinggi. Tapi ketika film berakhir, ada satu hal yang terlintas di kepala: film ini tidak masuk akal sama sekali. Rasanya seperti imajinasi anak umur 13 tahun yang bosan di kelas dan membayangkan dirinya jadi pembalap F1 tanpa benar-benar memahami bagaimana sistem keseluruhan olahraga ini bekerja.

F1 adalah olahraga dengan regulasi yang sangat ketat dan detail. Ada rules untuk segalanya dari technical regulations mobil, sporting regulations di lintasan, hingga financial regulations yang mengatur budget tim. Tapi film ini mengabaikan hampir semua aturan tersebut. Setiap scene racing seakan FIA tidak ada lagi, seakan tidak ada governing body yang mengawasi kompetisi ini.

Yang lebih ironis, FIA memang ada di film ini tapi digambarkan sedemikian lemah dan incompetent sampai bikin bertanya-tanya, siapa yang nulis script ini? Apa mereka tidak punya konsultan atau expert selama development? Padahal mereka punya. Salah satu producer film ini adalah pembalap F1 asli! Seorang driver yang seharusnya paham inside-out tentang sport ini. Tapi entah kenapa, penulisan tetap jadi berantakan.

Ada momen-momen di mana bahkan orang yang tidak nonton F1 pun akan berpikir, “Kok bisa hal kayak gini diperbolehkan di sebuah kompetisi profesional?” Mulai dari keputusan strategis yang absurd, pelanggaran regulasi yang diabaikan begitu saja, hingga drama politik tim yang terasa dipaksakan dan tidak realistis.

Ceritanya sendiri klise dan predictable. Veteran comeback story dengan mentor-mentee dynamic sudah kita lihat ribuan kali. Tidak ada twist yang genuine, tidak ada depth karakter yang meaningful. Brad Pitt memerankan Sonny Hayes hanya menampilkan aura farming di sepanjang film dimana tujuannya hanya keliatan seperti pria umur 50an yang masih keren. Karakter tidak berkembang secara menarik. Joshua Pearce sebagai rookie juga satu dimensi, arrogant young talent yang sedang belajar respect. Kita sudah tahu kemana cerita ini akan pergi sejak 15 menit pertama.

Yang paling menyebalkan adalah film ini memperlakukan audience seperti orang bodoh yang tidak mengerti F1. Mereka mengambil celah berlebihan dengan regulasi karena menganggap penonton tidak akan mengerti. F1 punya fanbase dengan pengetahuan yang tinggi. Mereka akan notice setiap inconsistency, setiap impossibility, setiap rule yang dilanggar.


Joseph Kosinski yang sebelumnya sukses dengan Top Gun: Maverick seharusnya bisa membawa energy yang sama ke F1. Tapi ada perbedaan fundamental: Top Gun bekerja karena meski dramatized, dia tidak melanggar aturan utama dari apa yang dia gambarkan. F1 sebaliknya, mengabaikan fundamental dari sport-nya sendiri.

Kosinski jelas punya skill dalam crafting action sequences yang menarik. Tapi dia (atau lebih tepatnya scriptwriter) membuat keputusan naratif yang sangat dipertanyakan. Entah dia tidak care tentang autentisitas, atau dia percaya bahwa action menarik bisa menutupi semua logic. Tentu tidak bisa.

Struktur film juga bermasalah. Pacing-nya tidak merata terlalu lama di setup yang membosankan. Klimaksnya predictable dan tidak satisfying karena kita tahu kemana ini akan pergi.

Yang disayangkan adalah Kosinski punya akses ke paddock F1 yang sebenarnya. Mereka syuting di race weekend asli, dengan tim dan pembalap real sebagai background. Tapi semua akses itu tidak ditranslate menjadi autentisitas dalam storytelling. It’s all surface, no substance.


Tapi ada yang patut di acungi 2 jempol. Secara visual, F1 adalah phenomenal. Sinematografi oleh Claudio Miranda benar-benar gila. Camera work-nya dynamic dan immersive, kita bisa benar-benar merasakan kecepatan dan intensity dari kecepatan mobil F1. Penggunaan berbagai angle, dari onboard camera, track-side shots, hingga aerial views, semuanya dieksekusi dengan sempurna.

Pengambilan gambar di dalam cockpit dengan yang kabarnya menggunakan iPhone memberikan POV yang menarik. Kita bisa merasakan adrenaline dari kecepatan di 300+ km/h. Secara visual, ini adalah salah satu film balapan yang paling realistik yang pernah dibuat.

Sound design adalah aspek lain yang luar biasa. Suara engine V6 hybrid turbo yang high-pitched dan distinctive, suara tire screaming di corner, suara komunikasi radio, semuanya authentic dan powerful. Mereka jelas record actual F1 car untuk audio, dan itu membuat perbedaan besar.

Musik oleh Hans Zimmer adalah typical epic orchestral yang kita expect dari blockbuster. Score-nya adrenaline-pumping dan sangat heroik, sempurna untuk membangun tensi selama balapan. Tapi secara keseluruhan tidak terlalu memorable.


F1 adalah film yang sangat frustrating karena dia punya semua tools untuk sukses, tapi gagal di aspek paling fundamental: storytelling yang koheren dan respect terhadap source material. Ini adalah kasus classic dari style over substance, semua visual spectacle tanpa foundation naratif yang solid.

Sebagai racing film, action sequences-nya memang thrilling. Production value-nya top-tier. Cinematography dan sound design-nya world-class. Kalau kita nonton di IMAX atau theater dengan sound system yang bagus, kita akan on the edge of our seat selama adegan balap. Adrenaline rush-nya real.

Tapi begitu keluar dari bioskop dan mulai berpikir tentang apa yang baru saja kita tonton, semuanya mulai unravel. Plot yang tidak masuk akal, karakter yang melakukan keputusan bodoh, regulasi yang dilanggar tanpa konsekuensi, semua akan membuat mood rusak. Terutama kalau penonton adalah F1 fan yang tahu bagaimana olahraga ini bekerja.

Film ini adalah insult terhadap intelligence audience. Pembuat film mengasumsikan bahwa penonton tidak paham F1 dan tidak akan mempertanyakan apapum. Mereka salah. F1 fans sangat berpengetahuan, dan mereka akan kritik untuk semua hal yang tidak akurat.

Ini adalah film yang menciptakan pengalaman berkesan di dalam bioskop apalagi di IMAX karena sajian mahal dari visual dan audio, tapi tidak punya staying power setelahnya. Tidak ada yang akan mengingat atau membicarakan film ini dalam beberapa bulan. Tidak ada momen iconic, tidak ada dialog memorable, tidak ada karakter yang diingat.

Rekomendasi: Kalau kamu mencari popcorn entertainment dengan adegan balap yang spektakuler, film ini bisa dinikmati, apalagi di IMAX dengan sound system bagus. Tapi kalau kamu F1 fan yang mengharapkan representasi akurat dari sport yang kamu cintai, prepare to be disappointed. Lima bintang untuk produksi, nol bintang untuk penulisan. Film ini proof bahwa tidak peduli seberapa bagus visual-nya, kalau story-nya jelek, hasilnya tetap mediocre. Nonton kalau ada waktu luang, tapi jangan expect anything beyond mindless spectacle.