21 Film RomCom Terbaik Sepanjang Masa

Film RomCom Terbaik Sepanjang Masa

Romantic comedy atau romcom adalah genre yang tidak pernah mati, kombinasi sempurna antara romance yang bikin baper dan comedy yang bikin ketawa. Genre ini punya rumus yang familiar: dua orang bertemu, jatuh cinta (atau benci dulu), menghadapi obstacles, dan akhirnya bersatu. Tapi yang membuat romcom terbaik dan memorable bukan hanya happy ending-nya, melainkan chemistry antar karakter, dialogue yang witty, situasi yang relatable, dan kemampuan untuk membuat kita percaya pada cinta sambil tetap entertaining. Berikut adalah 21 film romcom terbaik versi Kejar Film yang sudah terbukti stand the test of time dan layak masuk list tontonan wajib kamu.

21. Crazy Stupid Love (2011)

film romcom terbaik

Synopsis: Cal Weaver adalah pria berusia 40-an yang hidupnya runtuh ketika istrinya Emily mengaku selingkuh dan meminta cerai. Hancur dan tidak tahu harus berbuat apa, Cal menghabiskan waktu di bar di mana dia bertemu Jacob Palmer, seorang playboy yang mengajarinya cara menjadi confident dan attractive lagi. Sementara Cal belajar seni dating modern, berbagai karakter dalam hidupnya termasuk anaknya. semuanya terhubung dalam web romansa yang complicated.

Film ini sukses di bagaimana semua storyline terhubung dengan organic. Steve Carell membawa vulnerability yang genuine, Ryan Gosling begitu charming sebagai Jacob, dan Emma Stone sempurna sebagai wanita yang bisa membuat seorang playboy jatuh cinta. Yang membuat film ini lebih dari sekadar typical romcom adalah kedalamannya dalam mengeksplorasi berbagai stages of love, dari first crush hingga pernikahan yang sudah dijalani lama, menunjukkan bahwa cinta itu complicated tapi worth fighting for di setiap tahap.

20. Jerry Maguire (1996)

Synopsis: Jerry Maguire adalah agen olahraga sukses yang tiba-tiba mengalami krisis moral dan menulis mission statement tentang pentingnya mengutamakan klien. Langkah idealis itu malah membuatnya dipecat, dan hanya satu klien, Rod Tidwell, pemain football yang nyentrik yang tetap setia padanya. Dorothy Boyd, single mom yang bekerja sebagai akuntan di firma lamanya, memutuskan keluar dan ikut Jerry membangun agensi kecil mereka. Di tengah hubungan Jerry dan Dorothy yang makin rumit, Jerry harus menata ulang karier sekaligus mencari tahu apa yang benar-benar berarti dalam hidupnya.

Walau lebih drama daripada komedi, film ini tetap terasa seperti romcom karena inti emosinya ada pada hubungan Jerry dan Dorothy. “You complete me” dan “You had me at hello” jadi kutipan ikonis yang melekat sampai sekarang. Ceritanya tentang penebusan dan perjalanan Jerry untuk jadi orang yang lebih baik, pasangan yang lebih hadir, dan agen yang lebih manusiawi, dengan romansa sebagai pemicu perubahan itu. Tom Cruise dan Renée Zellweger punya chemistry manis dan tulus, membuat penonton ingin melihat mereka berhasil meski Jerry penuh kekurangan.

19. The Princess Bride (1987)

Synopsis: Seorang kakek sedang membacakan buku untuk cucunya yang sakit, cerita dalam buku itu ada film ini, dimana kita mengikuti kisah cinta sejati Buttercup dan Westley. Westley, si farmboy yang mencintai Buttercup, pergi mencari peruntungan lalu karena dia lama tidak kembali ia dianggap tewas dibunuh bajak laut. Buttercup pun dipaksa menikah dengan Pangeran Humperdinck. Namun Westley ternyata masih hidup sebagai Dread Pirate Roberts dan kembali untuk menyelamatkannya. Ia bekerja sama dengan Inigo Montoya dan Fezzik, menghadapi berbagai petualangan mulai dari tikus raksasa, fire swamp, hingga peperangan dengan pasukan istana.

The Princess Bride adalah dongeng yang nyaris sempurna, campuran aksi, petualangan, komedi, dan romansa yang cocok untuk segala usia. Dialognya super quotable (“As you wish,” “Inconceivable!”, “My name is Inigo Montoya…”), chemistry Cary Elwes dan Robin Wright begitu menawan, dan karakter pendukungnya mudah diingat.

18. There’s Something About Mary (1998)

Synopsis: Ted masih terobsesi pada Mary, cewek yang ia taksir sejak SMA, meski sudah 13 tahun berlalu sejak malam prom mereka yang kacau. Ia menyewa detektif swasta, Pat Healy, untuk mencari Mary, tapi Pat malah ikut naksir dan memberi Ted informasi palsu. Saat Ted akhirnya menemukan Mary di Miami, ia sadar hampir semua pria di sekitar Mary, teman, dokter, bahkan kurir pizza ternyata juga jatuh cinta padanya. Ted harus memperebutkan perhatian Mary sambil menghadapi kebohongan dan salah paham yang makin lama makin absurd.

Komedi Farrelly Brothers ini penuh humor ekstrem dan momen gila, tapi di balik semua kegilaannya ada ketulusan dalam cara Ted menyayangi Mary. Film ini membekas karena berani menyentuh batas yang jarang dipakai romcom lain, mulai dari adegan “hair gel” yang legendaris sampai physical comedy yang bikin cringe tapi tetap kocak. Cameron Diaz bersinar sebagai Mary, membuat obsesi semua karakter terasa masuk akal, sementara Ben Stiller pas sebagai sosok yang harus bertahan dari kekacauan demi mendapatkan hati pujaannya.

17. You’ve Got Mail (1998)

Synopsis; Kathleen Kelly menjalankan toko buku kecil warisan ibunya, The Shop Around the Corner. Di sisi lain ada Joe Fox, pewaris jaringan raksasa Fox Books, yang membuka superstore tepat di dekat tokonya dan mengancam bisnis Kathleen. Di dunia nyata mereka saling bermusuhan, tapi tanpa sadar mereka sebenarnya adalah sahabat anonim di internet yang perlahan jatuh cinta satu sama lain. Saat Joe mengetahui identitas Kathleen namun Kathleen belum tahu siapa ia sebenarnya, Joe harus memutuskan apakah akan jujur dan mempertaruhkan hubungan yang sudah terbangun, sambil bergulat dengan kenyataan bahwa dialah yang menghancurkan mata pencahariannya.

Film Nora Ephron ini adalah romcom khas akhir 90-an yang menangkap momen ketika internet mulai mengubah cara orang terhubung. Tom Hanks dan Meg Ryan kembali dipasangkan dengan chemistry yang bahkan lebih kuat daripada sebelumnya. Ceritanya berhasil karena benar-benar menggali konflik antara bisnis besar dan toko independen tanpa melupakan romansa di pusatnya. Dialognya cerdas, latar New York tampil memikat, dan perjalanan Joe memenangkan hati Kathleen meskipun mereka “musuh” di dunia nyata terasa sangat memuaskan untuk diikuti.

16. How to Lose a Guy in 10 Days (2003)

Synopsis: Andie Anderson, penulis majalah, mendapat tugas menulis artikel “How to Lose a Guy in 10 Days” dengan melakukan semua kesalahan klasik ala pacar super-clingy. Di waktu yang sama, Ben Barry, seorang eksekutif perusahaan advertising, bertaruh bahwa ia bisa membuat perempuan mana pun jatuh cinta padanya dalam 10 hari. Andie dan Ben bertemu dan mulai berkencan tanpa tahu motif tersembunyi masing-masing. Andie berusaha membuat Ben kabur lewat tingkah absurd, sementara Ben mati-matian menjaga hubungan itu tetap berjalan, menghasilkan situasi kocak dan salah paham tanpa henti.

Film ini jadi duel kemauan yang seru, dengan chemistry Kate Hudson dan Matthew McConaughey yang meledak. Komedinya muncul dari dramatic irony, penonton tahu permainan keduanya, sementara mereka sendiri tidak. Di balik gimik dan permainan, hubungan tulus mulai terbentuk, membuat ending-nya terasa memuaskan. Ceritanya juga menunjukkan bagaimana orang sering merusak hubungan dengan permainan manipulatif alih-alih kejujuran, tapi semuanya dibawakan dengan humor dan hati.

15. Amelie (2001)

Synopsis: Amelie Poulain adalah seorang pelayan di Montmartre, Paris, yang memutuskan diam-diam membuat hidup orang di sekitarnya lebih baik setelah menemukan kotak kenangan masa kecil dan mengembalikannya pada pemilik lama. Ia mulai melakukan berbagai kebaikan, mempertemukan ayah dengan putrinya, membantu rekan kerja menemukan cinta, hingga menjahili si pemilik toko yang kejam. Ketika Amelie menemukan album foto milik Nino Quincampoix di photo booth, ia jadi penasaran dan jatuh hati, tapi rasa malunya membuatnya memilih permainan rumit alih-alih mendekati Nino secara langsung.

Karya penuh imajinasi Jean-Pierre Jeunet ini adalah pesta visual dengan warna yang hidup dan sinematografi yang unik. Audrey Tautou menghadirkan Amelie dengan pesona yang manis dan memikat, membuat kita ingin melihat perempuan quirky ini menaklukkan ketakutannya dan menemukan kebahagiaan. Romantis-komedinya tidak konvensional, lebih fokus pada perjalanan Amelie menemukan keberanian dan jati diri daripada romansa itu sendiri. Namun ketika cinta akhirnya muncul, rasanya benar-benar magis. Suasana Paris, musik akordeon, dan gaya khas Jeunet menjadikan film ini seperti dongeng yang tetap terasa membumi.

14. Clueless (1995)

Synopsis; Cher Horowitz adalah siswi populer dan kaya, dia tinggal di Beverly Hills. Cher menganggap dirinya jago jadi mak comblang dan pembawa kebaikan. Fikiran Cher agak sedikit terganggu ketika ia sadar dirinya jatuh cinta pada Josh, mantan kakak tiri yang sedang kuliah dan sering mengkritik gaya hidupnya yang dangkal. Lewat serangkaian kekacauan dan momen introspeksi, Cher belajar tentang kebaikan yang tulus, arti persahabatan, dan bahwa mungkin Josh, si cerdas dan socially conscious, adalah orang yang tepat untuknya sejak awal.

Adaptasi modern Amy Heckerling dari novel Emma karya Jane Austin ini adalah salah satu film remaja paling ngehits era 90-an, melahirkan banyak slang dan tren fashion yang masih jadi referensi sampai sekarang. Alicia Silverstone membawakan karakter Cher dengan sempurna, dangkal tapi menggemaskan, manja tapi berhati baik. Film ini berhasil karena di balik gaya valley girl, ada perkembangan karakter yang nyata dan kehangatan yang tulus. Pemeran pendukungnya kuat, dialognya banyak yang memorable seperti (“As if!”), dan ceritanya mampu menjadi satir budaya Beverly Hills sekaligus potret manis kehidupan remaja.

13. The 40-Year-Old Virgin (2005)

Synopsis: Andy Stitzer bekerja di toko elektronik dan, di usia 40 tahun, dia masih perjaka. Saat teman-temannya mengetahui rahasia itu di malam mereka sedang main poker, mereka langsung menjadikannya proyek kerja sama, yaitu membantu Andy “kehilangan” keperjakaan. Berbagai rencana konyol pun terjadi, dari speed dating yang kacau sampai sesi waxing yang super kocak. Namun ketika Andy bertemu Trish, seorang single mom yang memiliki toko di seberang jalan, hubungan yang tulus mulai tumbuh. Andy lalu harus memilih, terus berbohong soal pengalamannya atau jujur dan mempertaruhkan perempuan yang benar-benar ia sukai.

Debut penyutradaraan Judd Apatow ini vulgar tapi sweet, Steve Carell membuat karakter Andy terasa simpatik, bukan menyedihkan. Film ini berhasil karena memang benar-benar lucu dan penuh momen ikonik dan improvisasi dari para aktor. Catherine Keener sebagai Trish tampil hangat dan dewasa, menghargai Andy apa adanya. Romansa mereka berkembang natural, dan ketika kebenaran terungkap, penyelesaiannya berpusat pada rasa saling menghormati dan cinta yang jujur, bukan sekadar memenuhi misi.

12. Crazy Rich Asians (2018)

Synopsis: Rachel Chu, profesor ekonomi di NYU, setuju menemani pacarnya, Nick Young, yang kembali ke Singapura untuk menghadiri pernikahan sahabat Nick. Yang tidak ia tahu, Nick adalah pewaris salah satu keluarga terkaya di Asia. Setibanya di sana, Rachel langsung masuk ke dunia supermewah penuh old money dan tradisi ketat, sambil menghadapi Eleanor, ibu Nick yang menganggap gadis Amerika kelas menengah seperti Rachel tidak cukup pantas untuk putranya. Rachel harus berhadapan dengan sosialita lain yang pencemburu, politik keluarga, dan ekspektasi budaya, sambil tetap menjaga jati dirinya.

Film ini jadi tonggak penting karena menjadi film studio Hollywood besar pertama dalam puluhan tahun dengan seluruh pemain utama keturunan Asia dan hasilnya luar biasa. Chemistry Constance Wu dan Henry Golding benar-benar sweet, tapi yang benar-benar mencuri perhatian adalah visualnya, gemerlap Singapura yang tampil megah dan glamor, dan tidak lupa adegan wedding yang indah disaksikan berulang kali. Ceritanya seperti dongeng di era modern, namun tetap berpijak pada konflik budaya nyata tentang tradisi versus kebebasan pribadi. Michelle Yeoh tampil memukau sebagai Eleanor, dan klimaksnya ketika permainan mahjong adalah sebuah metafora brilian untuk seluruh konflik yang ada. Ini film yang romantis, punya momen lucu, indah secara visual, dan punya makna budaya besar.

11. Notting Hill (1999)

Synopsis: William Thacker adalah pemilik toko buku khusus mengenai travel yang kini sepi pengunjung di Notting Hill. Ia hidup sederhana bersama roommate-nya yang super aneh, Spike. Hidupnya berubah total ketika Anna Scott, artis superstar Hollywood, masuk ke tokonya dan, lewat serangkaian kejadian konyol, berakhir minum teh bersama di apartemennya. Meski hidup mereka beda jauh ,William orang biasa, Anna aktris paling terkenal sedunia, ketertarikan satu sama lain akhirnya bisa muncul. Tapi kemudian hubungan mereka penuh tantangan, sorotan media, paparazzi, dan rasa minder William soal apakah orang biasa sepertinya bisa benar-benar bersama artis besar seperti Anna.

Naskah Richard Curtis adalah contoh naskah romcom yang diramu sempurna, lucu, tapi tetap terasa tulus. Hugh Grant pas dengan pesona canggungnya sebagai William, dan Julia Roberts memberi sisi rapuh pada Anna meski ia seorang mega bintang. Film ini berhasil karena memperlihatkan betapa absurd situasi mereka, meski sama-sama jatuh cinta hingga lahirlah kalimat ikonik, “I’m also just a girl, standing in front of a boy, asking him to love her,” yang menelanjangi hiruk-pikuk ketenaran dan menunjukkan kebutuhan manusia yang paling dasar, ingin dicintai.

10. 10 Things I Hate About You (1999)

Synopsis: Bianca Stratford tidak boleh pacaran sampai kakaknya, Kat, si cewek galak yang anti-sosial dan ogah peduli pada cowok juga mulai berkencan. Cameron, murid baru yang naksir Bianca, akhirnya membuat rencana gila bersama Joey. Joey membayar Patrick Verona, bad boy misterius di sekolah, untuk mengajak Kat berkencan. Awalnya Patrick hanya tertarik karena uang, tetapi semakin ia mengenal Kat yang cerdas, outspoken, feminist, dan tak peduli popularitas, perasaan asli mulai tumbuh. Ketika Kat mengetahui bahwa semua bermula dari taruhan, ia patah hati, dan Patrick harus membuktikan bahwa cintanya bukan sekadar proyek berbayar.

Adaptasi modern dari The Taming of the Shrew ini dibuat dengan cerdas, lucu, dan progresif untuk film remaja akhir ’90-an. Julia Stiles memberi Kat karakter yang kuat dan relatable di zamannya, dia mendengarkan “angry girl music,” dan menolak tunduk pada standar sosial. Heath Ledger tampil menawan sebagai Patrick, adegan serenadenya dengan “Can’t Take My Eyes Off You” adalah salah satu momen romcom paling ikonik. Film ini berhasil karena kedua karakternya berkembang. Patrick belajar untuk jujur dan vulnerable, sementara Kat belajar membuka diri. Chemistry mereka kuat, dan naskahnya penuh dialog witty serta referensi Shakespeare yang cerdas tanpa terasa sok intelektual.

9. Enchanted (2007)

Synopsis: Giselle, seorang princess dari negeri dongeng Andalasia, hampir menikah dengan Prince Edward ketika Queen Narissa yang jahat mendorongnya masuk ke portal menuju dunia nyata, New York City. Tersesat dan kebingungan di dunia live-action yang keras di mana hewan tidak bisa bicara dan orang-orang tidak tiba-tiba bernyanyi, Giselle bertemu Robert, seorang pengacara spesialis perceraian yang sinis sekaligus ayah tunggal. Awalnya enggan, Robert tetap membantu Giselle, sementara prince Edward mencari tunangannya di New York dengan bantuan seekor tupai, Pip. Seiring waktu, Giselle mulai mempertanyakan konsep “true love’s kiss” dan happy ever after yang selama ini ia yakini, terutama ketika ia mulai memiliki perasaan pada Robert yang jauh lebih realistis dan membumi dibanding Edward.

Enchanted adalah commentary cerdas Disney atas formula dongengnya sendiri, dieksekusi dengan humor dan kehangatan. Amy Adams bersinar sebagai princess naif yang terseret ke dunia nyata, penampilannya penuh pesona sekaligus komedik. Musical numbernya memikat, dan setiap adegan terasa seperti honor untuk film animasi Disney di era keemasannya. Namun inti kisah ini ada pada transformasi kedua karakter utama, Giselle belajar bahwa dunia nyata tak sesederhana di dunia dongeng, sementara Robert kembali percaya pada keajaiban dan romansa. Patrick Dempsey menjadi pasangan yang sempurna sebagai figur “straight man” untuk energi Giselle yang meluap-luap, dan chemistry mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus.  Film ini sangat family-friendly, tetapi punya cukup lapisan satire dan nostalgia untuk dinikmati penonton dewasa.

8. Love Actually (2003)

LOVE ACTUALLY Bill Nighy 2003

Synopsis: Romcom yang merangkai delapan kisah cinta di London menjelang Natal. Perdana Menteri jatuh cinta pada stafnya sendiri, seorang rock star yang sudah tua mencoba berdamai dengan manajernya, penulis yang sedang patah hati jatuh cinta pada seorang housekeeper asal Portugal, seseorang yang mencintai istri sahabatnya,  pasangan yang baru menikah dengan dinamika canggung, wanita karir yang terjepit antara cinta dan keluarga, seorang duda yang membantu putranya mengejar first crush, dan semuanya diceritakan memiliki hubungan keluarga yang retak. Tiap storyline menunjukkan bentuk cinta yang berbeda, mencerminkan bahwa cinta hadir dalam banyak wujud.

Film ini begitu memorable karena terasa jujur, cinta tidak selalu rapi atau berakhir manis. Beberapa cerita punya happy ending, beberapa menyakitkan, dan beberapa dibiarkan menggantung. Ensemble cast yang kaya memberikan bobot emosional yang kuat pada tiap kisahnya. Perpaduan humor, rasa patah hati, dan iringan lagu All I Want For Christmas Is You dari Mariah Carey, membuatnya menjadi romcom yang ikonik dan selalu layak ditonton ulang khususnya di hari Natal.

7. Flipped (2010)

Synopsis: Mengisahkan tentang Bryce dan Juli, mereka berdua saling bertetangga yang pandangannya tentang satu sama lain perlahan berbalik seiring waktu. Juli jatuh cinta pada Bryce sejak kecil, sementara Bryce justru terus menghindar karena malu dengan perhatian Juli. Memasuki kelas delapan, dinamika berubah, Juli mulai melihat kekurangan Bryce dan memilih fokus pada dirinya sendiri, sementara Bryce baru menyadari hal-hal yang membuat Juli begitu istimewa. Cerita disajikan bergantian dari sudut pandang mereka, memperlihatkan bagaimana satu kejadian bisa terasa sangat berbeda tergantung siapa yang menceritakannya.

Keistimewaan film ini ada pada cara ia menangkap polosnya cinta pertama sekaligus kerumitannya. Struktur dua perspektif membuat tiap momen terasa lebih dalam, dan perkembangan perasaan keduanya terasa organik. Madeline Carroll dan Callan McAuliffe tampil natural sebagai Juli dan Bryce. Lebih dari sekadar romansa manis, film ini berbicara tentang integritas, keberanian untuk melakukan hal yang benar, dan menyadari nilai diri sendiri. Perjalanan Juli yang berhenti mengejar seseorang yang tidak menghargainya terasa kuat dan menyentuh. Setting 1960-an yang hangat dan musik Marc Shaiman menambah nuansa nostalgia, menjadikannya coming-of-age story yang lembut dan bermakna.

6. Groundhog Day (1993)

Sinopsis:

Phil Connors, reporter cuaca yang punya sifat amgkuh dan sombong, ditugaskan meliput Groundhog Day di Punxsutawney. Dan dia hanya ingin cepat pekerjaannya selesai dan keluar dari kota kecil itu. Tapi keesokan pagi dia terbangun dan mendapati dirinya terbangun di hari yang sama, dan terulang berulang kali, hanya dia yang mengingat semuanya. Awalnya Phil memakai time loop untuk keuntungan pribadi, makan seenaknya, manipulasi orang, dan mengejar kesenangan instan. Setelah itu dia jatuh ke titik putus asa, mencoba segala cara untuk keluar dari time loop namun tanpa hasil.

Kenapa Film Ini Romcom yang Bagus:

Groundhog Day penuh dengan komedi ringan, tapi setiap momen dan jokes dieksekusi dengan baik oleh Bill Murray sehingga sereceh apapun akan tetap bikin ngakak. Namun padahal diluar itu, isi film ini penuh refleksi hidup. Disini Bill Murray mengalami evolusi karakter yang lengkap. Dari bajingan yang sinis, ke nihilist yang putus asa, lalu menjadi sosok compassion­ate yang akhirnya memahami makna hidup. Terjebak di hari yang sama berulang kali, Phil mencoba akhirnya sadar bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kebaikan dan kontribusi ke orang lain, bukan ego.

Romansa dengan Rita tumbuh organik karena Phil benar-benar berubah, bukan berpura-pura jadi sosok yang Rita mau. Rita yang cerdas dan tulus tak akan jatuh untuk Phil versi lama, tapi tertarik pada Phil yang menjadi lebih sabar, lebih kreatif, dan berkontribusi untuk sesama. Pesan universalnya kuat, kita selalu punya pilihan untuk jadi lebih baik di hari ini daripada kemarin. Si jenius dibelakang semua ini, Harold Ramis, menyatukan humor yang bikin ngakak, eksistensialisme, dan romance yang dieksekusi dengan presisi.

5. Heart Attack (2015)

 

Sinopsis:

Yoon adalah desainer freelance yang hidupnya setiap hari hanya soal memenuhi deadline pekerjaan tanpa henti. Akibat gaya hidup work overload yang buruk ini, dia mulai mengalami ruam aneh di sekujur tubuh yang memaksanya bertemu Imm, dokter cantik super charming yang sangat peduli pada Yoon. Dari kunjungan rutin itu tumbuh rasa yang tidak ia duga, sementara gaya hidupnya yang berantakan makin memperparah kondisinya. Di tengah pekerjaan yang tak ada habisnya, Yoon harus memutuskan apakah ia akan terus mengabaikan dirinya sendiri atau berani berubah demi seseorang yang membuatnya ingin hidup lebih baik.

Kenapa Film Ini Romcom yang Bagus:

Film ini jadi romcom yang menohok karena berani menguji tema tentang capeknya hidup ditengah persaingan ketat freelancer sambil tetep diisi dengan momen lucu dengan cara yang santai ala thai movies. Sunny ngasih performa yang effortless sebagai Yoon, kocak tanpa niat, nyebelin tapi relatable, dan punya momen rapuh yang bikin kita bisa otomatis peduli. Cara dia nunjukin burnout, cemas, dan awkward saat jatuh cinta terasa natural banget, seperti ngeliat teman sendiri yang hidupnya berantakan tapi tetap kita dukung.

Sementara itu, Davika tampil sebagai Dokter Imm dengan aura menenangkan yang bikin seluruh film langsung terasa lebih lembut tiap kali dia muncul. Dia nggak cuma jadi “love interest”, tapi jadi alasan Yoon mulai ngerem hidupnya dan ngeliat dunia lebih pelan. Chemistry mereka sederhana tapi kuat, bukan yang meledak-ledak, tapi selalu bikin senyum kecil muncul tanpa sadar. Kombinasi humor, romansa yang understated, dan dua pemain yang pas banget bikin film ini jadi romcom yang hangat, ringan, dan surprisingly nyantol lama di kepala.

4. Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023)

Sinopsis:

Bagus, seorang penulis skenario film, diam-diam membuat skenario film tentang Hana, crushnya di masa SMA yang tiba-tiba muncul lagi dalam hidupnya. Tanpa Hana tahu, Bagus menuangkan momen, perasaan, dan kenangan mereka ke naskah itu. Cerita bergerak dalam tiga lapis, hubungan nyata Bagus–Hana yang kikuk dan penuh tarik-ul­ur, versi romantis yang Bagus ciptakan di film-dalam-film, dan proses produksi yang menyingkap bagaimana cerita dibentuk.

Kenapa Film Ini Romcom yang Bagus:

Bangga dengan film Indonesia bukan alasan kenapa JCSDFF masuk ke list ini bahkan ada di 4 besar. Tapi karena Yandy Laurens yang sudah membuat surat cinta sempurna untuk semua fams genre romcom. Film ini deliver di banyak level, punya humor ketika memperlihatkan di belakang layar industri film dan proses kreatifnya, koneksi tulus Bagus-Hana, tapi juga menyorot jarak antara fantasi dan kenyataan yang di visualisasi kan secara sempurna. Ringgo Agus Rahman dan Nirina Zubir punya chemistry luar biasa, Nirina bahkan perform dengan kedalaman emosi luar biasa yang bikin ini jadi performance terbaiknya selama berkarir. Penggunaan hitam-putih untuk “film-dalam-film” juga sangat jenius, dan tetap memanjakan mata karena sinematografinya begitu indah.

Kekuatan film ini ada pada cara Yandy membuat kita bertanya apakah cinta versi film benar-benar ada. Ini romcom Indonesia yang berdiri tegak sejajar dengan karyaHollywood lain yang terbaik. Adegan kejar pacar seperti di film-film begitu ikonik dan mungkin tidak akan pernah kita lihat lagi di film lain.

3. When Harry Met Sally (1989)

Sinopsis:

Harry dan Sally pertama kali bertemu saat road trip dari Chicago ke New York, di mana Harry berargumen bahwa pria dan wanita nggak akan bisa berteman karena masalah seks. Lalu mereka bertemu lagi bertahun-tahun kemudian. Dari situ, mereka akhirnya jadi sahabat dekat, curhat soal patah hati, hubungan gagal, dan saling jadi tempat bersandar. Akhirnya ramalan Harry jadi kenyataan, mereka tidak bisa berteman karena suatu malam mereka berhubungan seks, membuat semuanya jadi rumit. Perasaan mulai ikut campur, batas persahabatan kabur.

Kenapa Film Ini Romcom yang Bagus:

Nora Ephron menulis screenplay yang jadi gold standar untuk siapapun yang ingin buat romcom, dialogue-nya tajam, lucu, quotable, dan terasa seperti percakapan dua orang cerdas di dunia nyata. Billy Crystal dan Meg Ryan punya chemistry luar biasa, mereka benar-benar terlihat seperti dua sahabat yang tumbuh bersama sebelum akhirnya jatuh cinta, sehingga perubahan dari friend ke lover terasa natural. Ceritanya serius menyorot pertanyaan klasik: bisakah pria dan wanita benar-benar berteman? Jawabannya dieksplorasi dengan humor sekaligus kejujuran.

Banyak momen ikonik di film ini, fake orgasm di Katz’s Deli yang legendaris, hingga New Year’s Eve confession yang dieksekusi sempurna secara emosional. Semua adalah bukti bahwa sang sutradara Rob Reiner memahami bahwa konflik terbaik dalam naskah dari Nora Ephron ini datang dari ketakutan internal, takut merusak persahabatan, takut komitmen, takut membuka diri. Film ini membuktikan bahwa romansa terbaik kadang berasal dari dua orang yang perlahan sadar bahwa cinta yang mereka cari selama ini sudah ada di depan mata. Friends-to-lovers terbaik, dan belum ada film lain yang benar-benar melampaui eksekusinya.

2. Breakfast at Tiffany’s (1961)

Sinopsis:

Holly Golightly adalah sosialita eksentrik yang hidup glamor di New York sambil mengandalkan “allowance” dari pria-pria kaya, tapi semua itu sebenarnya cara dia lari dari masa lalu kelam. Ketika Paul Varjak, seorang penulis yang pindah ke apartemen yang sama, dia langsung terpikat oleh Holly. Mereka membangun persahabatan yang tulus, dan Paul jatuh cinta, sementara Holly tetap terobsesi menikahi pria super kaya untuk merasa aman dan lepas dari kemiskinan.

Kenapa Film Ini Romcom yang Bagus:

Audrey Hepburn membuat karakter Holly Golightly terasa hidup, bukan sekadar simbol fashion, tapi sosok rapuh yang menutupi luka dengan glamour. Adegan saat dia menyanyikan Moon River begitu lembut mengusap usap hati dan telinga. Adaptasi Blake Edwards melembutkan versi novelnya Capote yang lebih gelap.

Breakfast at Tiffany’s meskipun rilis di tahun 1961, masih bisa dinikmati dan relatable hingga kini, bukan hanya karena style fashion yang ikonik, tapi karena lapisan emosionalnya, cinta, trauma, rasa takut, dan khususnya untuk wanita yang mencari harta untuk keamanan masa depan. Banyak film mencoba menirunya, tapi tidak ada yang menyamai perpaduan antara romansa, karakterisasi kuat, dan kehangatan emosional.

1. 500 Days of Summer (2009)

Sinopsis:

Tom Hansen bekerja sebagai penulis greeting card dan percaya pada takdir serta konsep soulmate. Ketika Summer Finn, mulai bekerja di perusahaannya, Tom langsung jatuh hati. Mereka pun memulai hubungan yang Tom anggap sebagai hubungan pacaran, meski sejak awal Summer sudah menegaskan bahwa ia tidak percaya pada cinta dan tidak menginginkan sesuatu yang serius.

Kenapa Film Ini Romcom yang Bagus:

Selain bisa disebut RomCom, film ini juga bisa disebut RomRor (Romance Horror! 🤣). Film ini bercerita jujur tentang kondisi “pacaran” di era modern dengan cara yang jarang dilakukan romcom lain, tentang kebutuhan pacaran hanya untuk dapat pelayanan, tidak mau melayani, tidak mau komitmen, dan bagaimana kita mengabaikan red flag karena sudah terlanjur bucin. Setiap pria yang menonton film ini akan masuk ke diri Tom dan merasakan elemen Horror yang ada di diri Summer meski dia bukan hantu. Tom adalah protagonis yang penuh kekurangan, egois, dan menolak melihat Summer dengan jernih, dan tenggelam dalam self-pity. Sementara itu, Summer adalah sosok villain unik yang jujur sejak awal, bahwa dia tidak menginginkan hubungan, dan ketidakmampuan Tom menerima kenyataan itu adalah kesalahan Tom sendiri.

Film ini diceritakan secara non-linear, dimana sangat efektif karena mengacak-acak cara kerja memori kita, melompat dari momen bahagia ke momen menyakitkan, memperlihatkan tempat yang sama dalam konteks berbeda, dan menunjukkan bagaimana perspektif berubah setelah semuanya berlalu. Adegan split-screen “expectation vs reality” saat pesta adalah contoh sempurna, sederhana namun destruktif menyakitkan dan begitu Horror. Soundtrack-nya juga dapat porsi yang sangat banyak dan enjoyable, sehingga nonton film ini sebenarnya seperti kita melihat sebuah video klip yang sangat panjang, menangkap nuansa jatuh cinta sekaligus pahitnya patah hati. Film ini juga berani untuk tidak pakai jalan pintas standar romcom berupa rekonsiliasi dan happy ending. Tom dan Summer memang tidak ditakdirkan bersama, dan itu tidak masalah. Ending yang mempertemukan Tom dengan Autumn menyiratkan bahwa ia telah belajar dari pengalaman dan siap untuk hubungan yang lebih sehat.

500 Days of Summer membalik ekspektasi namun tetap romantis dalam keyakinannya bahwa cinta itu ada, hanya saja tidak selalu seperti yang kita bayangkan. Ini adalah film untuk siapa pun yang pernah patah hati, yang pernah membangun fantasi untuk seseorang dalam imaji hanya untuk dikecewakan oleh realita, dan yang akhirnya belajar bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Marc Webb menunjukkan kedewasaan luar biasa dalam debutnya, menciptakan film yang inventif secara gaya namun sangat kuat secara emosional. Hasilnya adalah romcom dewasa yang memperlakukan penonton dengan kecerdasan. Lucu, perih, penuh harapan, dan brutal dalam kejujurannya, Film ini mendefinisikan ulang apa yang bisa dicapai romcom dan tetap menjadi salah satu representasi paling inovatif, dan romantis tentang cinta yang tidak berakhir bahagia, namun tetap bermakna.