25 Film Terbaik 2025 yang Wajib Kamu Tonton

25 Film Terbaik 2025 yang Wajib Banget Kamu Tonton

2025, what a year for movies! Tahun 2025 ini kita bener-bener dimanjain sama variasi tontonan yang ok banget. Bayangkan, di tahun ini, Paul Thomas Anderson menciptakan kembali sebuah masterpiece, DC dapat reboot yang refreshing, dan Guillermo del Toro bawa kita balik ke era monster klasik. Belum lagi sineas lokal yang makin berani eksplorasi ide liar. Pokoknya, cinema is back, baby. Langsung aja, ini 25 film terbaik 2025 pilihan Kejar Film.

25. Nuremberg

Nuremberg sukses menyajikan cerita yang cerdas, mengubah ruang sidang menjadi arena duel psikologis ‘kucing-kucingan’ yang mencekam antara Hermann Goering dan Douglas Kelley. Jantung film ini terletak pada dinamika kompleks antara Russell Crowe dan Rami Malek, keduanya menyuguhkan performa luar biasa sebagai musuh yang saling menaruh hormat namun bertekad saling menghancurkan.

Naskah tajam James Vanderbilt didukung ensemble pemeran pendukung yang luar biasa termasuk Michael Shannon dan Richard E. Grant. Sebuah tontonan provokatif yang dieksekusi dengan sangat rapi, menjadikannya salah satu film terbaik yang layak mendapat perhatian penuh tahun ini

24. F1

Meski punya masalah di penulisan karakter dan logika cerita, F1 tetap masuk list karena aspek teknisnya gila banget. Sinematografi Claudio Miranda benar-benar breathtaking, kamera selalu bergerak dinamis dan imersif, bikin kita bisa merasakan speed dan intensitas balapan dari segala angle, onboard, trackside, sampai aerial yang mulus banget.

Sound design-nya juga exceptional, suara mesin V6 hybrid turbo berasa autentik, semuanya terdengar jelas karena memang direkam dari mobil F1 beneran. Brad Pitt juga lumayan all in secara performa meski penulisan karakternya agak flat, dan Joseph Kosinski sekali lagi buktikan dia jago bikin action yang visualnya spektakuler.

Kalau kamu suka dunia balap atau sekadar ngehargain technical filmmaking, film ini jelas worth it ditonton di IMAX dengan sound system terbaik supaya dapet visceral thrill-nya F1. Cuma ya… siap-siap aja lower your expectations buat cerita dan pengembangan karakternya.

23. Superman

Man of Steel versi James Gunn ini sebenarnya punya banyak hal yang fresh mulai dari David Corenswet yang keliatan made for this role, sampai world-building yang cukup ambisius. Tapi filmnya sendiri kadang seperti lagi bingung mau jadi serius atau komedi, jadi tonenya suka loncat-loncat.

Secara visual, flying scenes dan action-nya keliatan clean banget, CGI-nya lumayan rapi tapi tidak groundbreaking, dan Metropolis plus Fortress of Solitude dibangun dengan detail yang bisa nyenengin fans. Nicholas Hoult ngasih versi Lex Luthor yang lebih calculated dan modern, sementara Rachel Brosnahan sangat baik memerankan Lois Lane.

Yang bikin film ini tetap menarik adalah ambisinya buat jadi fondasi DC Universe yang baru, berani mengenalkan banyak karakter dan elemen dunia sekaligus, walaupun kadang eksekusinya terasa buru-buru.

Buat fans DC yang lagi menunggu fresh start, ini awal yang cukup oke. Tidak revolusioner, tapi definitely bukan langkah yang buruk.

22. The Long Walk

Adaptasi novel Stephen King ini menyampaikan dystopian horror yang nancep banget, dengan premis sesimpel itu tapi punya daya ledak yang besar. Fokus ke dampak psikologis di sebuah kompetisi gerak jalan yang mematikan, bikin filmnya terasa super claustrophobic walau sebagian besar berlangsung di ruang terbuka. Para aktor mudanya tampil raw dan meyakinkan, kamu bisa ngerasain capek, takut, dan desperate bareng mereka.

Sinematografinya dibuat natural, landscapes terlihat indah tapi sekaligus mengancam, ngasih kontras yang pas antara kecantikan alam dan brutalnya event. Pace-nya pelan dan sengaja dibangun, kadang bisa bikin bosan akibat lambatnya pace, kadang bisa bikin tensi naik pelan-pelan tiap peserta gerak jalan meninggal satu per satu. Sound design yang minimalis, cuma langkah kaki, napas, sama suara tembakan, bikin atmosfer makin mengerikan.

21. Thunderbolts

Marvel menjanjikan pertunjukan besar tahun ini lewat Fantastic Four: First Steps, tapi yang justru bersinar secara kualitas adalah Thunderbolts. Action thriller ini memberi apa yang dirindukan fans Marvel, hiburan high-octane dengan practical stunts yang mantap dan koreografi fight yang rapet banget. Florence Pugh punya karisma dan physical presence yang cukup buat nge-carry seluruh film, sementara supporting cast-nya juga main solid.

Setiap set piece terasa beda dan kreatif, dari baku hantam dengan koreografi yang ok, sampai car chase yang nge-pump adrenalin. Semuanya juga dishoot dengan jelas, tidak pakai shaky cam yang bikin pusing.

Pacing-nya tight tanpa filler nggak penting, dan film ini tahu apa yang penonton mau, dan berikan itu semua tanpa basa-basi. Sound design untuk semua gun fight dan ledakannya nendang, sementara score-nya nge-boost momen action jadi makin intens.

Walau plotnya tidak coba ngerombak genre dan motivasi beberapa karakter cukup straightforward, film ini tetap sukses sebagai pure action ride yang well-crafted, memuaskan, dan cocok buat fans yang cuma merindukan old school Marvel action dengan practical effect .

20. Companion

Sci-fi thriller ini ngulik hubungan manusia dan robot AI dengan premis yang menarik dan eksekusi yang baik. Terutama dalam menunjukkan kompleksitas emosional dari situasi yang makin lama makin kacau. Dan chemistry antara karakter manusia dan robot AI-nya surprisingly touching.

Screenplay yang mengangkat pertanyaan seru tentang consciousness, companionship, dan apa sih yang bikin sebuah hubungan terasa “real,” meski kadang nggak sedalam yang seharusnya. Overall ini emotional drama tentang rasa kesepian yang mengakibatkan cara aneh manusia berkomunikasi di era digital yang relatable dan ringan untuk diikuti.

19. Predator: Killer of Killers

Entry terbaru dari franchise ini akhirnya menghasilkan lagi vibes classic yang begitu intens, brutal, dan penuh adrenalin. Desain Predator-nya, di-update tapi tetap terasa “Predator” yang menyatu mulus dengan aksinya juga gak nahan diri untuk menunjukkan kreatifitasnya dalam cara membunuh.

Permainan shadow dan visibility bikin tensi naik terus. Pacing-nya nyaman diikuti, build-up-nya sabar sebelum akhirnya ngelepas ledakan action yang ditunggu-tunggu. Intinya, film ini buktiin kalau franchise Predator masih punya napas jika ditangani dengan respect dan diberikan resource yang tepat dan hasilnya, sebuah pertunjukkan action yang satisfying untuk semua fans Predator.

18. How to Train Your Dragon (2025)

Siapa sangka ada sebuah live action adaptasi yang bisa menyamai kualitas film animasi aslinya. How to Train Your Dragon sukses ngejaga magic dari versi animasinga sambil menaikan skala visual jadi lebih megah. Para naga kelihatan gila-gilaan kerennya, CGI-nya photorealistic tapi tetap punya ekspresi yang bikin mereka hidup, dan Toothless masih jadi scene-stealer karena charm versi animasinya berhasil diterjemahkan mulus ke live-action.

Cinematography-nya cakep banget, khususnya di semua flight sequences. Adegan terbang nembus awan dan dive dari ketinggian itu beneran terasa menakjubkan dengan detail dan scale live-action yang lebih besar. Production design buat desa Viking dan sarang naga juga sangat immersive dan penuh detail.

Hubungan Hiccup dan Toothless tetap jadi jantung filmnya, dan hampir semua emotional moments yang sebenarnya sudah kita lihat entah kenapa masih “ngena” di hati.

17. Mission: Impossible – The Final Reckoning

Meski bukan entry terkuat dan bahkan jadi salah satu yang medioker dari semua series Mission Impossible, film ini layak masuk salah satu film terbaik 2025 karena tetap deliver di bagian yang jadi jualan utama di franchise ini, yaitu practical stunts dan Tom Cruise yang lagi-lagi nekat ngelakuin hal-hal yang secara logika manusia normal harusnya nggak dicoba. Set pieces-nya gede dan ambisius, semuanya di-capture dengan cinematography yang jelas dan nggak bikin pusing. Lokasi-lokasinya juga kece, global, exotic, dan hasil produksinya memang berhasil membuat film ini terlihat sangat mahal.

Masalahnya hanya ada di pacing yang berantakan. Act pertama yang terlalu lama muter-muter, action-nya kelamaan nunggu muncul. Script-nya juga kesulitan menutup plot dari Dead Reckoning Part One, dan ending terasa agak antiklimaks untuk sesuatu yang ditagih sebagai finale besar.

16. Avatar: Fire and Ash

 

James Cameron kembali mendefinisikan arti ‘absolute cinema’ lewat Avatar: Fire and Ash. Ini bukan sekadar tontonan visual yang memanjakan mata dengan VFX mutakhir dan aksi beroktan tinggi, tapi juga sebuah narasi solid yang menggali tema keluarga dan independensi secara mendalam.

Karakter Kiri tampil sebagai scene-stealer sejati, menjadi jangkar emosional paling impresif di tengah kemegahan Pandora yang makin luas. Untuk pengalaman maksimal, nonton di format IMAX adalah kewajiban, bukan pilihan. Ketajaman warna dan keluwesan geraknya benar-benar membawa kita masuk ke dunia lain. Sebuah sajian penutup tahun yang sempurna.

15. Blue Moon

Berlatar sepenuhnya di sebuah bar Broadway kelas atas, Blue Moon terasa seperti sebuah pementasan teater yang dipoles dengan presisi tinggi. Ethan Hawke tampil fenomenal sebagai Lorenz Hart, menanti kedatangan mantan partnernya dengan campuran rasa cemburu, duka, dan sinisme tajam terhadap lirik-lirik Oklahoma! yang ia anggap ‘murahan’. Film ini bukan sekadar tentang reuni, melainkan pergulatan batin seorang seniman yang mencoba menenggelamkan egonya lewat gelas-gelas bourbon dan wit yang menyayat hati, bergerak dinamis antara mengasihani diri sendiri dan wawasan brilian tentang cinta. Sepuluh menit terakhirnya adalah kunci, di mana film ini berhasil mendaratkan konklusi yang sepadan dengan ritme ceritanya yang terjaga rapi. Sebuah studi karakter yang intim dan luar biasa.

14. Frankenstein

Guillermo del Toro ngeracik ulang cerita monster klasik ini jadi gothic fever dream yang visualnya gila dan emosinya menusuk. Production design dan creature effects benar-benar level dewa, Frankenstein dibuat dengan “tragic beauty” yang bikin dia grotesque tapi tetap terasa manusiawi.

Dalam karya khas Guillermo del Toro, setiap frame benar-benar kayak poster mahal. Setting Victorian juga digarap detail banget, dari lab Dr. Frankenstein sampai jalanan desa yang gloomy tapi hypnotic. Musiknya bombastis, cocok dengan tone filmnya.

Naskahnya nggak takut nyemplung ke tema besar tentang penciptaan, tanggung jawab, dan apa sih yang bikin kita manusia—semua dibawain dengan respect ke source material sambil tetap kasih sentuhan humanist khas del Toro yang sayang banget sama “monster”-nya. Hasil akhirnya campuran horor dan tragedi yang hancurin hati—in a good way. Ini tipe prestige horror yang buktiin genre bisa jadi high art kalau ditanganin filmmaker sevisioner ini.

13. K-Pop Demon Hunters

Korean action-musical comedy ini sebenarnya tipe film yang harusnya berantakan, tapi malah nge-blend semua elemennya dengan gila dan surprisingly works. Premise K-pop group yang diam-diam jadi pemburu demon absurd banget, tapi filmnya commit total mengembangkan premis tersebut jadi sesuatu yang luar biasa stylish.

Dengan visual yang colorful, kita seperti diperlihatkan bagaimana jika Blackpink sedang membantai para demon. Scoring-nya nge-mix K-pop beats pada orkestrasi adegan action dengan cara yang harusnya kacau tapi malah cocok. Intinya, film ini tahu persis apa yang mau dituju, yang penting fun, dan tidak pernah sok serius.

12. Bugonia

Yorgos Lanthimos kembali dengan ciri khasnya yang eksentrik di Bugonia, menyajikan interpretasi ulang dari Save the Green Planet! yang terasa lebih dingin dan sengaja dirancang untuk mengusik kenyamanan penonton.

Jangan berharap menemukan sci-fi blockbuster penuh aksi laser di sini, ini adalah satir gelap yang klaustrofobik, di mana ketegangan dibangun murni lewat duel psikologis yang intens. Jesse Plemons tampil brilian sebagai sosok paranoid yang tak tergoyahkan, beradu energi dengan Emma Stone yang mampu menghadirkan aura intimidasi yang mencekam sebagai ‘bos’ yang dituduh alien.

Film ini adalah sebuah masterclass akting yang terus memancing rasa penasaran hingga detik terakhir, meninggalkan penonton dalam perasaan campur aduk antara bingung dan mual. Sebuah pengalaman sinematik yang jelas bukan untuk mereka yang mencari hiburan ringan

11. Sinners

Sinners garapan Ryan Coogler ini nge-blend supernatural dan politik dengan cara yang surprisingly smooth. Visualnya benar-benar berhasil nangkap vibe western tahun 1930-an, dari landscape luas sampai shadow yang bikin suasana makin creepy. Filmnya memang mulai pelan dan butuh waktu buat build-up, tapi begitu masuk paruh kedua, atmosfer horornya mulai nempel di kulit. Musical numbers yang muncul sesekali juga bikin film ini terasa hidup.

Campuran genre dan ide yang Coogler mainkan, mulai dari isu ras sampai pertentangan moral, semuanya muter jadi satu paket yang engaging. Michael B. Jordan memberikan performance di versi terbaiknya, dan cast lainnya juga tampil maksimal.

Elemen horornya mungkin tidak sebesar yang diekspektasikan, tapi political satire + tensi yang terus naik bikin Sinners tetap jadi tontonan yang kuat dan memorable. Perfect buat kamu yang suka horor isinya “daging” semua, bukan cuma jumpscare.

10. Sorry Baby

Tiga jempol buat Eva Victor karena gak cuma nulis dan nge-direct, tapi juga memberikan salah satu performance akting paling bagus tahun ini. Jarang banget ada film yang berani mengangkat isu seberat ini sambil tetap ngelempar momen-momen kocak yang beneran lucu, dan semuanya nyatu dengan mulus. Chemistry dua pemeran utamanya juga hidup, natural, dan penuh kejujuran.

Film ini bukti kalau indie movies bisa mengalahkan blockbuster besar lewat cerita dan akting yang tulus, dan emotional punch yang dalam.

9. It Was Just an Accident

Di balik judulnya yang terdengar inosen, ‘It Was Just an Accident’ justru menyuguhkan thriller psikologis yang pelan tapi mematikan. Film ini tidak mengandalkan twist murahan, melainkan membangun ketegangan lewat dialog-dialog tajam yang menelanjangi kemunafikan karakter utamanya satu per satu.

Arahan visualnya terasa sangat intim, membuat penonton seolah menjadi saksi mata yang ikut terjebak dalam situasi serba salah tanpa bisa berbuat apa-apa. Ada nuansa daek comedy yang disisipkan dengan sangat rapi, membuat kita tersenyum kecut di tengah situasi yang sebenarnya tragis. Sebuah tontonan yang efektif, efisien, dan meninggalkan aftertaste yang cukup mengganggu, dalam artian terbaik

8. Black Bag

Sebuah film espionage thriller kelas berat yang smart, gripping, dan bikin kita  fokus dari awal sampai akhir. Cate Blanchett dan Michael Fassbender tampil gila-gilaan, mereka main dengan intensitas yang meledak tapi tetap ada dinamika, jenis chemistry yang bikin tiap scene berdenyut seperti di setrum listrik sedikit aja.

Supporting cast juga tidak cuma jadi tempelan, Naomie Harris, Rege-Jean Page, dan Pierce Brosnan semuanya memberi layer-layer intrik yang bikin ceritanya makin dalam. Dialognya layaknya pisau tajam, twist-nya banyak tapi nggak pernah terasa maksa, semua mengalir dengan kepercayaan diri Soderbergh.

Film ini memang ada di zonanya Soderbergh, kita bisa merasakan ciri khasnya di sinematografi yang stylish dan pacing yang tight tight tight!. Black Bag bukan tipikal spy movie yang biasa, ini versi premium yang udah disaring, dipoles, dan disajikan dengan gaya.

7. Sentimental Value

Perhatian, film ini akan diam-diam, pelan-pelan nyeret kamu masuk ke dunia sebuah keluarga, dan sebelum sadar kamu udah kebawa emosi mereka. Mereka menunjukkan gimana beberapa generasi hidup dengan luka sejarah dan trauma pribadi yang sulit hilang.

Fokusnya ada di hubungan ayah dan dua anak perempuannya yang sekarang tinggal di Norwegia modern, masing-masing coba menghadapi beban masa lalu dengan cara yang beda. Filmnya ngebuka pintu rumah mereka lebar-lebar dan semua ditampilkan apa adanya. Walau terlihat sederhana, ceritanya punya twist kecil yang bikin potongan puzzle baru kerasa pas banget di akhir, bikin keseluruhan film terasa makin hangat dan menyentuh.

6. Demon Slayer: Infinity Castle

Secara visual anime ini terlalu bombastis, Infinity Castle benar-benar bikin napas deg degan. Skalanya gila, megastructure surealis yang terus shifting. Ufotable lagi-lagi nunjukin kalau mereka itu cheat code industri animasi, setiap transition kerasa seperti kita sedang masuk ke dalam sebuah video game yang cinematic. Nonton Infinity Castle di IMAX , bakal bikin kita terhipnotis seperti beneran jatuh ke dalam kastilnya.

Durasi 155 menit itu sebenarnya bikin was-was, tapi film nggak pernah kerasa melambat. Satu-satunya minus hanya flashback yang kebanyakan dan vibe-nya masih terlalu “serial TV” buat ukuran film.

5. Nezha 2

Nezha 2 menyajikan sebuah laga aksi yang luar biasa, setiap adegan fight terasa seperti karya seni yang ditata dengan presisi. Frame-per-frame-nya penuh detail, dan slow-motion dipakai bukan buat gaya-gayaan tapi sebagai tanda baca visual yang bikin tiap pukulan dan gerakan senjata terasa makin nendang. Ada jeda kecil di tengah chaos yang bikin kita bisa menghargai detail animasinya sekaligus nge-boost tensinya.

Di tengah era film yang sering kebanyakan drama dan plot bertele-tele, Nezha 2 datang sebagai contoh storytelling yang disiplin banget. Plotnya berjalan serapi mungkin, tiap beat bukan cuma ngegerakin cerita, tapi juga ngedorong karakter maju tanpa bikin ritmenya kendor. Konfliknya juga gak maksa, semuanya muncul organik dari kepribadian karakter dan tekanan dunia di sekeliling mereka.

Skripnya diberikan dengan menghargai intelejensi kita sebagai penonton. Kita tidak seperti disuapi, ada politik dan intrik yang bisa diikuti dengan nyaman. Keputusan karakter terasa logis dan konsisten, bikin alur sebab-akibatnya enak diikuti dan bikin stakes makin tinggi. Bahkan karakter sampingan pun dikasih motivasi jelas, jadi dunia yang dibangun kerasa hidup dan kaya.

Pendeknya, ini kombinasi action brutal yang artistik, cerita yang rapi, dan world-building yang matang. Nezha 2 nunjukin kalau animasi bisa sekaligus megah, efisien, dan emotionally engaging.

4. Weapons

Weapons, adalah salah satu horror–thriller paling aneh, dan bikin geleng-geleng kepala di tahun ini. Filmnya berani dan inventive dalam cara bercerita, ngasih berbagai perspektif dari karakter berbeda dalam satu timeline, dan struktur seperti ini ternyata ngeklik banget pas semuanya nyambung di akhir. Tidak semua orang mungkin suka style seperti ini, tapi ini merupakan kreatifitas yang perlu diberikan apresiasi setinggi-tingginya.

Kalau ada yang sedikit ganggu, mungkin durasinya agak kepanjangan, dan ada satu karakter yaitu Paul si polisi, yang arc-nya nggak sekencang yang lain. Bukan jelek, cuma gak se-impactful itu.

Selebihnya, Weapons hadir dengan cara yang unik dan tetap ada momen komedi. Dan herannya komedinya gak ngebunuh tensi disturbing yang dibangun filmnya. Performa pemainnya khususnya Julia Garner dan Josh Brolin solid semua, dan Zach Cregger nunjukkin lagi kalau dia jago banget bikin horror yang smart dan stylish.

3. Train Dreams

Mengadaptasi prosa liris Denis Johnson ke layar lebar bukanlah tugas mudah, namun Clint Bentley mengeksekusinya dengan sensitivitas visual yang luar biasa. Film ini tidak bercerita lewat dialog yang eksposisif, melainkan membiarkan heningnya hutan dan deru kereta api di kejauhan yang mengambil alih narasi.

Sinematografinya menangkap lanskap Amerika Barat bukan sekadar sebagai latar belakang, melainkan sebagai entitas purba yang indah sekaligus kejam, seolah menelan karakter utamanya dalam isolasi yang absolut. Ada kualitas mimpi yang nyata di setiap frame-nya, membuat batas antara realitas sejarah dan halusinasi sang tokoh utama menjadi samar dengan cara yang sangat puitis dan tidak memaksakan diri.

Di tengah kemegahan visual tersebut, Joel Edgerton memberikan penampilan yang sangat menyayat hati sebagai Robert Grainier. Ia berhasil menyalurkan rasa duka dan keterasingan selama puluhan tahun tanpa perlu berakting secara meledak-ledak, cukup lewat sorot mata yang redup dan gestur tubuh yang kian lelah dimakan waktu.

Kehadiran Felicity Jones, meski dalam porsi yang lebih singkat, menjadi jangkar emosional yang vital, membuat rasa kehilangan yang menghantui sepanjang sisa durasi film terasa begitu valid dan personal. Ini adalah jenis sinema yang meresap perlahan, meminta kesabaran penonton, dan membayarnya dengan sebuah renungan melankolis yang akan tertinggal lama di ingatan.

2. No Other Choice

Sebuah flm yang benar-benar ngehantam emosi. Ceritanya tentang pilihan-pilihan mustahil dan moral dilemma yang nggak pernah kasih jalan mudah. Le Byung-hun tampil apik dan berhasil deliver tiap lapis konflik batin yang dia bawa, sampai saya ikut sesak lihat dia harus milih hal-hal yang sama sekali nggak manusiawi.

Naskah Park Chan-wook jelas merangkum dilema yang jadi inti cerita lalu ngulik konsekuensinya tanpa tedeng aling-aling. Cinematography dibuat intim, dekat banget dengan karakter, tapi tetap nunjukin gambaran besar situasi yang dia hadapi. Pemeran pendukung khususnya Son Ye-jin tampil mengesankan, mereka selalu jadi representatif dari sebuah konflik yang makin kompleks.

Production design realistis dan nggak glamor, bikin dunia film ini kerasa nyata dan kejam apa adanya. Musiknya minimalis, ngasih ruang buat akting dan situasi yang sudah berat dari sananya.

Film ini gak nawarin jawaban gampang atau moral clarity. Semuanya abu-abu, dan itu justru bikin kita ikut ngerasain kegilaan situasinya. Tema tentang pengorbanan, tanggung jawab, dan harga yang harus dibayar untuk bertahan hidup digarap dengan kedalaman yang jarang ditemui di era sekarang. Pacing-nya pun dibangun pelan tapi penuh tekanan, tiap adegan kayak punya bobotnya sendiri.

Ini tipe film yang nempel lama setelah credits jalan. Bikin mikir, bikin nggak nyaman, dan khususnya untuk para pria akan buat kalian bertanya: “Kalau gue di posisi dia… gue bakal gimana?”

1. One Battle After Another

Film Terbaik 2025

Ini film terbaik 2025. Sutradara favorit saya sepanjang masa, Paul Thomas Anderson, benar-benar all-in di sini, ini terasa seperti puncak dari semua hal yang bikin dia salah satu filmmaker terbaik yang masih aktif (meski sebetulnya sejak Boogie Nights dia memang sudah di puncak sih). Pendalaman karakter yang rumit, visual long tracking shot yang elegan, emosi yang dalam, dan tema yang kaya banget.

Leonardo DiCaprio, Sean Penn, dan Benicio del Toro tampil gila-gilaan. Leo sebagai mantan pejuang revolusi yang paranoid, Penn sebagai kolonel bajingan yang intimidating, dan del Toro “Sensei” sebagai mantan pejuang yang sudah capek jiwa raga, tiga-tiganya deliver performance akting yang mungkin terbaik di tahun ini. Wajib Oscars untuk Sean Penn dan ada winning chance besar juga untuk Leo dan del Toro.

Sinematografinya Mihai Malaimare Jr. cakep parah. Setiap framenya tidak murahan, terutama shot untuk car chase di babak akhir yang dieksekusi dengan presisi dan bikin deg-degan.

Jonny Greenwood ngasih score yang haunting dan atmosferik, nyatu banget sama visual dan dramanya. Naskahnya sendiri padat dan multi-layered, ngebahas revolusi, keluarga, warisan, dan harapan dengan kedalaman yang nggak pretensius. Cast pendukung solid, production design immersive, editing-nya ritmis, semuanya serba on point.

Film ini ngomongin politik radikal, tapi juga nyentuh banget soal keluarga dan second chances. Bisa jalan sebagai action, drama keluarga, studi karakter, dan komentar politik sekaligus.

Durasi panjangnya benar-benar tight, nggak ada scene yang terasa sia-sia. Semua momen ada gunanya.

Ini level filmmaking yang jarang banget. Punya ambisi besar, eksekusi rapi, impact emosional kuat. PTA sekali lagi ngebuktiin kenapa dia masih jadi salah satu yang terbaik.

Absolutely must-watch dan sejauh ini jelas ini adalah film terbaik 2025.