AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU (2025)
Bene Dion Rajagukguk (Detektif Bene), Oki Rengga (Detektif Oki), Indra Jegel (Detektif Jegel), Boris Bokir (Detektif Boris), Ghita Bhebhita (Linda Rajagukguk), Tissa Biani (Sari), Chew Kin Wah (Acim), Jarwo Kwat (Penghuni Panti), Jajang C. Noer (Penghuni Panti), Tika Panggabean (Penghuni Panti), Egy Fedly (Penghuni Panti), Ariyo Wahab (Komandan)
Sutradara: Muhadkly Acho | Produser: Ernest Prakasa, Dipa Andika (Imajinari, Legacy Pictures) | Genre: Komedi, Misteri, Aksi | Durasi: 119 menit | Tanggal Tayang: 27 November 2025
Geng Agak Laen kali ini tampil dengan wajah baru, bukan lagi sebagai pemilik rumah hantu yang bangkrut, melainkan sebagai empat detektif polisi yang reputasinya udah nyaris hancur. Bene, Boris, Jegel, dan Oki adalah tim investigasi paling payah di kepolisian. Mereka udah berkali-kali salah tangkap, bikin kasus berantakan, dan hampir dipecat.
Kali ini ada kesempatan terakhir yang datang. Mereka harus menyamar sebagai perawat di sebuah panti jompo untuk menangkap buronan kasus pembunuhan anak wali kota yang diduga bersembunyi di sana. Keempat detektif koplak ini harus benar-benar merawat para lansia sambil menjalankan investigasi rahasia mereka. Tapi seperti biasa, niat baik mereka selalu berakhir jadi kekacauan total.
Di dalam panti jompo yang dipimpin Linda Rajagukguk, rahasia demi rahasia mulai terbuka. Setiap penghuni panti punya latar belakang mencurigakan. Di tengah misi yang udah cukup rumit, konflik personal masing-masing anggota tim juga mulai meledak. Boris yang lagi proses cerai, Jegel dengan masalah ekonomi untuk hidupi ibunya, Bene dengan tekanan uang kuliah adiknya, dan Oki yang kesulitan uang untuk lahiran istrinya, semuanya bikin misi ini makin absurd tapi juga makin hangat dengan sentilan dramanya.

Yang paling saya apresiasi dari Agak Laen: Menyala Pantiku adalah keberanian Muhadkly Acho untuk nggak bikin sekuel atau prekuel yang aman. Film ini berdiri sendiri dengan cerita yang completely fresh. Seperti yang dilakukan Warkop DKI dulu, setiap film Agak Laen punya universe-nya sendiri. Keputusan ini brilian karena bikin franchise nggak terjebak dalam formula dan keterbatasan karakter yang itu-itu aja.
Storyline-nya unik dan nggak klise. Format whodunnit mystery yang dipilih ternyata cocok banget buat chemistry keempat tokoh utama. Dari awal mereka masuk panti jompo, kalian udah berhasil mereka ajak buat nebak-nebak siapa pembunuh sebenarnya. Setiap penghuni panti jompo dibuat suspicious dengan caranya masing-masing. Naskahnya disusun dengan rapi banget, dari setup, conflict, sampai reveal, semuanya terstruktur dengan presisi.
Misteri pembunuhannya nggak dibuat berat sampai bikin mikir. Ini tetap film komedi, tapi mystery element-nya cukup engaging untuk bikin kamu penasaran. Ada beberapa twist yang genuinely surprising, dan cara Acho nge-deliver clue-clue-nya subtle tapi fair. Kamu bisa ikutan main detektif-detektifan sambil ketawa-tawa.

Kerapatan komedinya bener-bener gila!. Ini adalah aspek paling kuat dari film ini yang meningkat dari film pertama . Dari menit pertama sampai bahkan post credit scene , kamu bakal dibikin sakit perut ketawa pecah terus tanpa henti. Timing jokes-nya perfect, begitu satu gag selesai, langsung nyambung ke yang berikutnya dengan mulus. Nggak ada dead air, nggak ada momen yang terasa drag. Setiap scene punya fungsi, entah untuk advance the plot atau deliver punchline yang ngena.
Yang bikin komedinya work adalah ketidakterdugaan. Acho jago banget ngecoh ekspektasi penonton. Kamu pikir joke bakal jalan ke arah A, eh tiba-tiba belok ke Z dengan cara yang bikin kamu melongo sambil ngakak. Spektrum komedinya juga luas, dari diksi yang cerdas, slapstick yang dieksekusi dengan komitmen, sampai satir sosial yang berani banget.
Soal garansi dari Indra Jegel yang bilang penonton bakal loncat dari kursi saking ngakaknya, wow man, ini beneran kejadian! 🤣 Ada beberapa adegan yang parahnya bikin satu studio meledak dengan tawa. Gak ada yang bisa mengalahkan feeling ketika kita dan satu bioskop kompak ketawa sambil tepuk tangan. Ada scene tertentu yang mungkin udah bisa ditebak bakal muncul, tapi execution-nya tetap aja bikin ngakak abis. Bahkan setelah keluar bioskop, kamu masih bakal ketawa sendiri inget beberapa adegan.
Tapi film ini nggak cuma komedi receh doang. Ada selingan drama yang menyentuh yang disisipkan dengan apik. Pas lagi rame-ramenya ketawa, tiba-tiba ada momen yang bikin kamu pause sebentar dan feel something. Contohnya adalah kerennya akting drama dari Boris Bokir yang menangis di taman bersama anaknya.

Balance antara komedi dan drama ini yang bikin film punya depth. Kamu nggak cuma dibikin tertawa, tapi juga bisa care sama karakternya. Ada humanitas di sini, ada pesan tentang persahabatan, kesetiaan, dan bagaimana kita dealing dengan kegagalan dalam hidup.
Film ini juga berani banget dalam social commentary-nya. Ada kritik tajam terhadap fenomena sosial yang dikemas dalam komedi. Scene di musala yang nyindir gimana seseorang bisa dianggap “Habib” dan “Gus” cuma karena gaya berpakaian bener-bener gokil. Pesan tentang “ada banyak cara untuk mengabdi” yang dijadikan konklusi juga cukup powerful. Acho dan tim nggak takut berjalan di pinggir jurang ketika melontarkan jokes, tapi mereka melakukannya dengan cerdas sehingga satir-nya tetap ngena tanpa jadi offensive.

Chemistry keempat aktor utama nggak perlu diragukan lagi. Bene Dion Rajagukguk, Oki Rengga, Indra Jegel, dan Boris Bokir udah kayak geng beneran yang udah puluhan tahun kenal. Kamu bisa feel kalau mereka nyaman satu sama lain, dan itu diterjemahkan ke layar dengan semourna. Interaksi mereka natural karena sudah terlatih di podcast, nggak ada yang terasa scripted.
Bene tetap solid dengan timing komedinya yang mantap . Dia bisa deliver line yang simple jadi lucu karena intonasi dan body language-nya on point. Ada gravitas dalam penampilannya yang bikin kamu bisa respect karakternya.
Oki Rengga adalah comic relief yang nggak pernah gagal. Energinya luar biasa, dan dia commit 100% ke setiap komedi fisik. Ada scene di mana Oki harus melakukan adegan action sambil tetap maintain komedi dan dia melakukannya dengan baik. Ekspresinya juga priceless, terutama pas karakter dia bereaksi ke situasi absurd.
Indra Jegel di film ini bersinar jauh lebih terang dibanding sebelumnya. Dia dapet spotlight lebih banyak dan dia deserved. Timing komedinya bagus , dan kali ini ada layer dalam aktingnya yang bikin karakternya nggak cuma jadi badut.
Boris Bokir punya character arc paling kuat di film ini. Sebagai sosok yang lagi menghadapi perceraian, dia bawa vulnerability yang kerasa jujur banget. Dia jadi semacam grounding force buat grup, sambil tetap deliver momen komedi yang natural. Penampilannya punya kedalaman yang bikin kamu gampang ikut ngerasain perjuangan karakternya.

Para aktor senior seperti Chew Kin Wah, Jarwo Kwat, Jajang C. Noer, Tika Panggabean, dan Egy Fedly masing-masing bikin karakternya hidup, meski kekurangannya adalah ada beberapa arc yang dibiarkan menggantung dan tidak menjawab pertanyaan penonton.
Pemeran pendukung yang benar-benar nyuri perhatian di film ini adalah Ghita Bhebhita sebagai Linda Rajagukguk, dia absolutely killed it. Bukan tipe karakter sampingan yang cuma lewat terus hilang; Linda punya presence yang kuat dan selalu datang dengan komedi yang lucu banget. Setiap kali dia nongol, kamu langsung siap karena pasti ada momen lucu atau justru sesuatu yang surprisingly meaningful. Chemistry-nya sama Bene juga ngalir natural dan relate apalagi khususnya untuk masyarakat batak.

Muhadkly Acho benar-benar nunjukin kalau dia bukan sutradara one-hit wonder. Kalau film pertamanya itu adalah surprise hit, film keduanya ini jadi bukti kalau dia bener-bener paham cara ngeracik komedi dengan presisi.
Opening scene aja udah kayak pernyataan sikap. Dengan budget yang jelas lebih besar, Acho buka filmnya lewat action sequence yang cukup menggelegar. Dari angle, pilihan shot, sampai pacing semuanya terasa “oke, ini next level Agak Laen.”

Agak Laen: Menyala Pantiku jadi bukti kalau komedi Indonesia bisa naik level tanpa harus ngorbanin identitasnya. Film ini beneran lucu, punya momen emosional yang kena, dan secara teknis juga rapi banget. Muhadkly Acho sukses ngerjain film kedua yang bukan cuma sekadar “bisa nyusul” pendahulunya, tapi di banyak sisi malah terasa lebih matang dan lebih berani
Tapi ya, tetap ada minusnya. Bagian penutupnya kurang nendang dalam nutup semua benang cerita. Setelah build-up yang solid selama dua babak pertama, resolusi di act ketiga kerasa agak buru-buru. Ada beberapa subplot yang nggak kebagian penyelesaian yang layak, jadi beberapa pertanyaan yang sempat muncul sepanjang film nggak terjawab dengan rapih. Beberapa supporting characters juga kayaknya punya potensi buat digali lebih dalam, tapi akhirnya cuma lewat begitu aja. Ending-nya muncul agak mendadak, bikin saya berharap ada sedikit lebih banyak waktu buat wrap-up semuanya dengan lebih satisfying.
Tapi jujur, ini semua cuma keluhan kecil dalam keseluruhan pengalaman yang tetap seru. Kekurangan ini nggak sampai ngurangin fun yang filmnya kasih, hanya lebih ke rasa “wah, kalau ending-nya lebih rapi dikit, ini bisa jadi perfect.”
Buat fans Agak Laen dari film pertama, wajib banget nonton. Buat yang belum nonton film pertama, nggak masalah karena Agak Laen: Menyala Pantiku ceritanya berdiri sendiri. Dan buat siapa pun yang lagi nyari hiburan berkualitas yang bikin senyum pulang-pulang. ini dia jawabannya.
Rating: 8/10
Rekomendasi: Wajib ditonton karena ini pure entertainment dalam bentuk komedi paling bikin ngakak. Cocok banget buat ditonton bareng temen atau keluarga. Datanglah dengan hype yang tinggi dan berekspektasilah buat ketawa sampai perut pegal, dan pulang dari bioskop dengan senyum lebar. Chemistry para cast, komedinya yang rapat, dramanya yang pas, storyline yang unik, dan production value yang surprisingly impressive, semuanya nyatu jadi pengalaman yang bener-bener memorable.
Iya, ending-nya bisa aja lebih kuat, tapi perjalanannya begitu fun sampai kekurangan itu gampang dimaafin. Ini komedi Indonesia di level terbaiknya, funny, heartfelt, dan dibuat dengan craft yang beneran niat. Tontonlah, kalau bisa bareng crowd yang rame biar ketawanya makin kerasa dan experience makin hidup. Agak Laen: Menyala Pantiku buktiin kalau komedi kita bisa lebih dari yang sudah ada






Leave a Reply