Review Film Decision to Leave (2022) | Menghancurkan Hatimu Dengan Cara Paling Indah

DECISION TO LEAVE (2022)

Park Hae-il (Detective Jang Hae-jun), Tang Wei (Song Seo-rae), Lee Jung-hyun (Jung-an), Go Kyung-pyo (Detective Soo-wan), Park Yong-woo (Im Ho-shin)

Sutradara: Park Chan-wook | Produser: Moho Film, CJ Entertainment | Genre: Neo-noir, Romance, Mystery, Crime | Durasi: 138 menit | Tanggal Tayang: 29 Juni 2022


Review Film Decision To Leave (2022). Seorang pria ditemukan tewas di daerah terpencil dekat puncak gunung. Awalnya, semua tanda mengarah pada kecelakaan saat mendaki. Namun, ada sesuatu yang terasa janggal dari perilaku istrinya, Song Seo-rae, seorang imigran asal Cina yang usianya jauh lebih muda dari sang suami. Detektif Jang Hae-jun, seorang penyidik yang sopan tapi penuh semangat, ditugaskan untuk mengusut kematian itu. Dalam proses penyelidikan, Hae-jun yang menderita insomnia mulai merasa tertarik pada Seo-rae, wanita yang kini berstatus janda. Perlahan, batas antara kecurigaan dan perasaan pribadi mulai kabur , membuat Hae-jun terjebak antara tugasnya sebagai detektif dan rasa cinta yang tumbuh di luar kendalinya.


 

review decision to leave

Ada banyak sutradara yang bagus, tapi cuma segelintir yang udah bisa bikin kita yakin filmnya bakal bagus bahkan sebelum nonton. Park Chan-wook termasuk di antara yang segelintir itu. Dari Oldboy sampai The Handmaiden, dia selalu punya cara unik buat bercerita dengan elegan tapi tetap menghantam emosi.
Dan Decision to Leave? Ini dia bukti lagi kenapa Park Chan-wook ada di level berbeda. Film ini terasa begitu matang, penuh detail, dan dibuat dengan rasa cinta yang nggak main-main. Setiap adegannya halus, tiap emosi terasa pas, dan hasil akhirnya… jujur aja, sempurna.

Premis filmnya sebenarnya cukup sederhana dan udah sering kita lihat: seorang detektif yang jatuh cinta pada tersangka yang sedang dia selidiki. Tapi apa yang dilakukan Park Chan-wook dengan premis itu benar-benar beda, sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun di genre ini. Dari awal, Park udah nunjukin betapa baiknya dia mengontrol setiap elemen film. Dia tahu persis ke mana ingin membawa kita, tapi nggak pernah pilih jalan yang gampang. Film ini ngajak kita buat benar-benar fokus, bukan cuma pada apa yang terlihat di layar, tapi juga pada hal-hal yang sengaja nggak ditampilkan. Storytelling-nya adalah a masterclass in narrative perfection.

Park membangun ceritanya dalam tiga act yang terasa solid banget, semuanya bekerja dengan flawless precision. Setiap transisi, setiap reveal, setiap twist dieksekusi dengan begitu halus dan terencana. Nggak ada satu detik pun yang terasa sia-sia. Naskah yang dia tulis bareng Chung Seo-kyung terasa cerdas, berlapis, dan penuh nuance. Ceritanya secara perlahan menarik kita masuk, menggenggam emosi kita, dan nggak pernah benar-benar melepaskannya.

Yang paling brilian buat saya adalah cara film ini ngomong tentang cinta, bukan cuma cinta yang romantis, tapi juga rasa takut akan cinta yang salah, pengkhianatan, pernikahan, kebohongan, keinginan buat move on, dan hal-hal yang akan selamanya melekat dalam diri kita. Decision to Leave bukan cuma film tentang cara mengungkapkan perasaan, namun juga cara untuk memendam.


 

Park Hae-il memberikan penampilan yang luar biasa sebagai detektif Jang Hae-jun. Ia berhasil membawakan karakter yang mudah dikenali, seorang pria yang tidak banyak bicara, tapi setiap gestur dan tatapannya sudah cukup untuk menjelaskan apa yang dia rasakan, bahkan alasan di balik kebohongannya pada sang istri. Itu adalah kekuatan besar dari aktingnya.

Hae-il memainkan Hae-jun dengan keseimbangan sempurna antara kerentanan dan intensitas. Lewat pilihan penyutradaraan yang khas, Park Chan-wook seolah menempatkan kita langsung di dalam kepala sang karakter dan membuat kita melihat apa yang ia lihat, dan merasakan apa yang ia rasakan. Hasilnya adalah sebuah penampilan yang halus, dan benar-benar menyentuh.

Jika Park Hae-il sudah menunjukkan performa yang solid, bintang sesungguhnya dalam Decision to Leave adalah Tang Wei sebagai Song Seo-rae. Peran femme fatale sangat cocok untuknya, dan saya berani bilang tidak ada aktris lain yang bisa memainkan karakter seperti ini lebih baik dari dia. Tang Wei tampil enigmatic, mysterious, dan sangat convincing. Yang paling menarik adalah bagaimana dia berhasil membuat kita paham mengapa siapa pun bisa jatuh cinta padanya. Kecantikan Tang Wei tidak datang dari aspek seksualitas yang eksplisit, melainkan dari aura dan presence-nya yang sangat sophisticated dan refined. Cara dia bergerak, berbicara dengan Korean yang terbatas tapi tepat, serta tatapannya, semuanya memancarkan magnetisme yang membuat penonton sulit beranjak dari layar.

Di awal, kepolosannya yang semakin terasa karena keterbatasannya berbahasa Korea membuat kita sebagai penonton ingin ikut simpati untuk bersikap lembut padanya. Tapi seiring waktu, saat ia mulai memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya, sisi itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menggoda. Ada aura berbahaya yang selalu mengelilinginya, sesuatu yang membuatnya semakin menarik dan misterius.

Tang Wei memberikan penampilan yang luar biasa, sebuah career-defining performance yang akan dikenang sebagai salah satu interpretasi femme fatale terbaik dalam sejarah sinema


“Heavy sex” dan “heavy violence” — dua elemen yang hampir selalu ada di film-film Park Chan-wook. Tapi tidak kali ini. Di Decision to Leave, Park datang dengan naskah yang jauh lebih matang, dan tidak seekstrem biasanya. Ia menghadirkan bukan hanya salah satu thriller terbaik dalam beberapa tahun terakhir, tapi juga kisah romansa yang terasa paling realistis dan intens.

Setiap frame diarahkan dengan presisi dan kehati-hatian seorang maestro. Ada shots mulai dari yang benar-benar inovatif sampai yang khas dengan gaya Park Chan-wook. Beberapa adegannya bahkan menampilkan juxtaposition visual yang begitu unik, menempatkan elemen-elemen berbeda dalam satu komposisi dengan cara yang unik.

Pacing film ini benar-benar sempurna. Dengan durasi 138 menit, Decision to Leave tidak pernah terasa membosankan karena setiap adegan punya tujuan jelas dan selalu berkontribusi pada keseluruhan cerita. Bahkan di momen-momen tenang, ketegangan tetap terasa dan terus terbangun. Park Chan-wook tahu persis kapan harus menekan gas dan kapan harus membiarkan momen untuk bernapas. Perhatian dan kepedulian yang ia tuangkan ke setiap detail begitu terasa ini jelas sebuah work of love dari seorang filmmaker yang sedang berada di puncak kemampuannya.


 

Secara visual, Decision to Leave benar-benar menakjubkan. Sinematografi karya Kim Ji-yong terasa memukau, setiap frame terlihat seperti karya seni yang hidup. Dan mungkin memang itu tujuannya, menjadikan setiap shots sebagai bagian dari sebuah mahakarya. Penggunaan cahaya natural, terutama di adegan pegunungan dan pantai, menciptakan suasana yang sekaligus indah sekaligus haunting. Palet warnanya kaya namun tetap lembut, didominasi oleh nuansa biru dan hijau yang membangun suasana melankolis tapi juga romantis.

Hal yang membuat film ini begitu istimewa juga adalah musiknya. Scoring karya Cho Young-wuk terasa begitu magis, selalu hadir, tapi tidak pernah mendominasi. Musiknya menciptakan suasana yang mendalam, misterius, dan sangat romantis. Ada satu tema lagu yang terasa sempurna, muncul di ending, dan terus menghantui sampai film berakhir. Benar-benar tak terlupakan.

Meski begitu, keheningan juga punya peran besar di sini. Park Chan-wook tahu persis kapan musik harus mengalun, dan kapan diam untuk justru berbicara lebih keras.


 

Bagi saya, Decision to Leave adalah film yang sempurna. Tidak ada satu pun yang terasa salah. Suatu pencapaian luar biasa dalam sinema modern. Karena sudah jarang thriller romance yang berani, indah, begitu romantis, namun bikin patah hati. Park Chan-wook benar-benar menciptakan sesuatu yang spesial, sebuah film yang akan diingat sebagai salah satu kisah cinta terbaik yang pernah dibuat. Dan memang ini salah satu film paling menyedihkan sekaligus paling romantis yang pernah saya tonton. Cara film ini mengeksplorasi cinta yang mustahil, cara menyayangi dalam diam, hubungan yang tragis, tapi juga indah dengan cara yang sulit dijelaskan.

The moment you said you loved me, your love ended. And the moment your love ended, my love began

Yang membuat film ini begitu istimewa adalah bagaimana Park Chan-wook benar-benar membalik semua ekspektasi penonton. Dari sutradara dengan reputasi seperti dia, banyak orang mungkin mengira akan ada banyak heavy sex seperti di film-filmnya terdahulu terutama The Handmaiden yang punya beberapa adegan seks paling kuat dalam sinema modern. Tapi di sini, Park justru melakukan hal sebaliknya. Seks bukan hal penting. Yang dibicarakan film ini adalah perasaan yang murni, emosi yang berada di atas hasrat fisik. Hubungan antara dua karakter utamanya bukan sekadar “cinta terlarang”, tapi sesuatu yang jauh lebih dalam, kedekatan ekstrem yang melampaui keinginan jasmani, sampai ke batas terdalam dari emosi manusia itu sendiri.

Film ini selalu menarik untuk diikuti, membuat kita terus tegang dan tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bahkan ketika ceritanya bergeser secara drastis dari Busan ke Ipo, dari satu penyelidikan ke penyelidikan lain, kita tetap sepenuhnya terikat pada kisahnya. Decision to Leave pada akhirnya adalah film tentang perasaan, tentang pilihan, tentang “keputusan untuk pergi” baik secara fisik maupun emosional. Ini adalah film yang bisa membuatmu menangis, membuatmu terdiam menahan nafas, dan endingnya akan membuatmu mengalami patah hati paling liar dan mengacak-acak perasaan meski film telah berakhir.

Rating: 10/10

Rekomendasi: Ini adalah film yang akan menghancurkan hatimu dengan cara paling indah. Dan bagi penikmat film thriller atau noir, ini adalah bentuk baru dari genre tersebut, segar, menegangkan, dan memikat. Tang Wei dan Park Hae-il memberikan penampilan terbaik dalam karier mereka, layak mendapat semua penghargaan. Sinematografinya adalah karya seni, musiknya tak terlupakan, dan cara bercerita film ini nyaris sempurna. Ini adalah film yang akan terus membekas, membuatmu merasakan cinta dan patah hati dengan intensitas yang jarang dimiliki film mana pun. Tontonlah, rasakan setiap momennya, dan biarkan film ini menghancurkanmu dengan cara yang indah. Sempurna.