FINAL DESTINATION: BLOODLINES (2025)
Kaitlyn Santa Juana (Stefanie Lewis), Teo Briones (Charlie), Richard Harmon, Rya Kihlstedt, Owen Patrick Joyner, Anna Lore, Brec Bassinger, Tony Todd (William Bludworth)
Sutradara: Zach Lipovsky, Adam B. Stein | Produser: New Line Cinema, Warner Bros. Pictures | Genre: Horror, Thriller | Durasi: 110 menit | Tanggal Tayang: 16 Mei 2025
Stefanie Lewis, seorang mahasiswi yang terus diganggu mimpi buruk berulang penuh kekerasan, memutuskan pulang ke rumah keluarganya untuk melacak satu-satunya orang yang mungkin bisa memecahkan siklus kematian ini. Stefanie menyadari bahwa nasib mengerikan menanti mereka semua, dan dia harus menemukan cara untuk menghentikan death’s design sebelum terlambat. Berbeda dari film-film sebelumnya, Bloodlines berfokus pada ikatan darah dan apa yang terjadi ketika takdir mengincar orang-orang yang benar-benar kamu cintai.

Setelah lima film dan lebih dari dua dekade, Final Destination entah bagaimana masih punya nyawa, atau lebih tepatnya, masih punya pertunjukan adegan kematian untuk dishare ke penonton. Kali ini franchise Final Destination mengambil twist yang berbeda dengan menempatkan cerita keluarga di pusat cerita, bukan sekadar orang asing yang kebetulan menghindari kematian bersama. Pergeseran ini membuat taruhannya terasa lebih berat dan emosi lebih dalam, karena ketika kematian datang untuk keluarga, yang dirasakan bukan hanya takut, tapi juga duka, dan perasaan rasa bersalah. Keputusan ini membuat Bloodlines lebih menonjol dari entry sebelumnya, menonjol dalam arti bisa lebih baik atau lebih buruk. Opening disaster-nya juga fresh, bukan lagi jalan tol, roller coaster, pesawat, atau jembatan gantung, tapi kali ini dimulai di restoran pencakar langit. Unexpected, mencekam, dan sekaligus elegant dan mengerikan.
Sekarang soal yang paling dinanti: gore. Ya, sudah pasti kematian-kematiannya brutal, berdarah-darah, dan cukup liar. Tapi meski beberapa sekuens kematiannya bagus, mereka tidak mencapai level horror yang unforgettable seperti FD 2 atau 3. Kenapa? Karena terlalu banyak CGI. Kematian-kematiannya terasa animated dan bukan dalam artian yang bagus, tidak seperti 3 seri di awal yang banyak memakai practical effects yang bisa menempel di ingatan.
Suspense-nya juga hit or miss, bagian yang membuat series Final Destination menarik adalah betapa simple-nya kematian itu datang. Seperti truk pembawa kayu-kayu besar yang bikin trauma satu generasi, terbakar di tanning bed, itulah contoh kematian yang basically bisa terjadi ke siapa saja. Final Destination pernah bisa membuat kita takut sama kamar mandi sendiri. Tapi di sini, beberapa kematian terasa terlalu direkayasa, seperti takdir harus melalui rintangan besar hanya untuk membuat satu kematian terjadi. Ini membuatnya jadi kurang grounded, dan jadi “movie death” bukan “this could happen to me” death.
Zach Lipovsky dan Adam B. Stein yang sebelumnya menggarap live-action Kim Possible Movie membawa DNA Disney Channel mereka ke franchise ini, dalam arti yang sangat buruk. Film ini punya energy yang aneh dan goofy yang terasa seperti nyasar dari genre lain. FD 2 punya mood suram dan FD 3 punya tampilan ala gothic rock, sementara Bloodlines terasa goofy secara keseluruhan.
Ada masalah besar dengan visual. Beberapa camera work, lighting choices, dan delivery dialogue terasa off, hampir seperti kita nonton 18+ TV show daripada film horror. Kadang terlihat murahan, yang mengecewakan karena series ini harusnya terasa sinematik. Tapi film ini malah terasa seperti film yang dibuat oleh pelajar atau mahasiswa yang punya budget tinggi dengan aktor-aktor B sampai C-list.

Saya adalah fans Final Destination sejak masih SD, meski dengan semua kekurangannya, saya tidak bisa bohong, film ini enjoy dinikmati dan membuka portal nostalgia. Film ini juga mengingatkan kita bahwa series Final Destination masih tau bagaimana membuat setiap sekuen kematian terasa menarik untuk diikuti. Untuk fans yang sudah invested di franchise ini selama bertahun-tahun, Bloodlines worth watching meski tidak perfect. Untuk kalian yang baru nonton, ini bisa jadi entry point yang cukup lah, meski bukan representatif dari yang terbaik yang franchise ini punya untuk ditawarkan. Turunkan ekspektasi, embrace the goofiness, dan nikmati sebagai horror fun ride yang tidak perlu ditonton terlalu serius.
Rekomendasi: Recommended untuk fans Final Destination yang ingin melihat formula baru dengan family dynamics. Kalau kamu mencari practical gore effects dan realism seperti FD 1, FD 2 atau 3, ini mungkin akan mengecewakan. Tapi kalau kamu bisa menerima CGI-heavy deaths dan goofy tone ala Disney channel, kalian bisa enjoy. Tonton dengan teman, jangan overthink, dan enjoy the ride. Ini bukan Final Destination terbaik, tapi juga bukan yang terburuk






Leave a Reply