Review – Jatuh Cinta Seperti di Film-Film | Surat Cinta Sempurna Untuk Pecinta Film

JATUH CINTA SEPERTI DI FILM-FILM (2023)

Ringgo Agus Rahman (Bagus), Nirina Zubir (Hana), Alex Abbad (Pak Yoram), Sheila Dara Aisha, Dion Wiyoko, Julie Estelle

Sutradara: Yandy Laurens | Produser: Imajinari, Jagartha, Trinity Entertainment | Genre: Romance, Comedy, Drama | Durasi: 103 menit | Tanggal Tayang: 30 November 2023


Bagus adalah seorang penulis skenario yang telah lama sukses dengan berbagai adaptasi. Setelah bertahun-tahun menulis cerita orang lain, dia memutuskan untuk membuat sesuatu yang personal, sebuah film romansa tentang Hana, cinta pertamanya di masa SMA yang kembali masuk ke hidupnya. Tanpa sepengetahuan Hana, Bagus diam-diam menuangkan perasaan dan pengalaman mereka berdua ke dalam naskah yang sedang dia kerjakan.

Film ini mengikuti proses pembuatan film itu sendiri, dari tahap penulisan, pre-production, hingga shooting. Di tengah kesibukan membuat film, Bagus berusaha meyakinkan Hana yang masih berduka atas kehilangan suaminya untuk membuka hati lagi. Namun kehidupan tidak sesederhana skenario yang dia tulis, dan Bagus harus belajar bahwa realitas jauh lebih kompleks daripada cerita di layar lebar.


Baru membaca sinopsisnya saja sudah terasa kalau film ini punya nyali. Sejak menit awal, jelas sekali ini bukan sekadar romansa lokal biasa. Film ini hadir sebagai meta-naratif cerdas yang mengupas “dapur” kreatif sebuah film tentang bikin film, tentang merakit cerita, sekaligus sentilan bahwa realita sering kali ogah tunduk pada plot manis yang sudah dibayangkan di kepala.

Pendekatan Yandy Laurens di sini terasa segar lewat pembagian delapan sequence yang mewakili fase produksi sekaligus dinamika hubungan Bagus dan Hana. Struktur naratifnya mirip Inception versi rom-com, ada lapisan tipis antara realita Bagus, naskah tulisannya, dan proses syuting. Penonton diajak melihat satu adegan yang sama dari berbagai sisi. Sebagai kenyataan pahit, draf skenario, hingga adegan layar lebar yang sudah terpoles rapi.

Hal yang bikin film ini spesial adalah betapa terasanya kecintaan tulus Yandy Laurens pada sinema. Bukan sekadar menjadikan industri film sebagai latar tempelan, tapi benar-benar mengupas jeroan proses storytelling dari pengembangan karakter hingga keputusan sutradara. Ini seperti surat cinta untuk semua rom-com, sekaligus sentilan cerdas soal jurang antara fantasi sinematik dan realitas. Momen ketika Hana mempertanyakan apakah membuat film bisa menggantikan empati nyata menjadi jantung ceritanya, sebuah pengingat bahwa emosi manusia tak bisa semudah itu disederhanakan menjadi sekadar plot points.

Di sisi lain, potret cinta di usia 30-an serta cara berdamai dengan duka digarap sangat dewasa tanpa terjebak melodrama. Film ini menolak menyuapi penonton dengan happy ending palsu atau resolusi yang terlalu rapi. Alih-alih menutup semua lubang plot dengan manis, narasinya justru membiarkan kompleksitas hidup tetap hadir apa adanya, valid, dan manusiawi.


Ringgo Agus Rahman sebagai Bagus memberikan salah satu performa terbaiknya. Dia membawa depth yang luar biasa untuk karakter penulis yang idealis namun juga somewhat naif tentang kehidupan nyata. Ringgo berhasil membuat Bagus terasa relatable, seorang creative yang passionate tapi kadang terlalu tenggelam dalam dunianya sendiri. Ada vulnerability yang genuine dalam aktingnya, terutama di momen-momen ketika Bagus harus menghadapi kenyataan bahwa hidup tidak bisa di-script seperti filmnya.

Tapi bintang sesungguhnya dari film ini adalah Nirina Zubir. Performanya sebagai Hana adalah masterclass dalam akting yang restrained namun powerful. Nirina tidak butuh dialog panjang atau gesture besar untuk menyampaikan emosi, setiap tatapan mata, setiap senyum yang dipaksakan, setiap keheningan, semuanya dilakukan dengan alasan. Dia membawa layer yang sangat kaya untuk karakter seorang janda muda yang mencoba bangkit dari kehilangan sambil menghadapi perasaan baru yang muncul.

Yang paling impressive adalah bagaimana Nirina menangani duality karakternya antara Hana yang nyata dan Hana yang ada dalam imajinasi Bagus. Ada subtle difference dalam cara dia acting di “kehidupan nyata” vs. di “dalam skenario,” dan itu menunjukkan pemahaman mendalam terhadap material. Chemistry antara Ringgo dan Nirina juga luar biasa natural, membuktikan kolaborasi mereka sebelumnya di Keluarga Cemara bukan kebetulan.

Alex Abbad, Sheila Dara, Dion Wiyoko, dan Julie Estelle sebagai tim produksi film-dalam-film memberikan supporting performance yang solid. Mereka bukan sekadar background characters, tapi punya fungsi naratif yang jelas dalam menunjukkan bagaimana film dibuat dan bagaimana collaborative process bekerja.


Yandy Laurens membuktikan dirinya sebagai salah satu sutradara paling exciting di perfilman Indonesia saat ini. Setelah eksperimen dengan genre romance-fantasy, dia kini menunjukkan kehebatannya dalam menangani romansa dewasa dengan kompleksitas naratif yang tinggi. Suatu hal yang membutuhkan directing yang confident dan visioner.

Keputusan untuk membuat meta-narrative dengan struktur berlapis adalah risiko besar yang bisa backfire jika tidak dieksekusi dengan baik. Tapi Yandy Laurens melakukannya dengan sangat terukur. Dia tahu kapan harus playful dengan format, kapan harus serius dengan emosi, dan kapan harus membiarkan audience bernafas dan merefleksikan apa yang baru saja mereka tonton.

Penggunaan warna hitam putih untuk bercerita adalah keputusan brilian sekaligus aesthetic. Bukan hanya sekadar gimmick visual, tapi punya fungsi naratif yang jelas dalam membantu audience navigate antara realitas dan fiksi tanpa membuat mereka bingung. Transisi antara warna dan monochrome dilakukan dengan sangat smooth dan tidak jarring.

Yang paling mengesankan adalah bagaimana Yandy Laurens menangani pacing. Dengan struktur yang kompleks dan banyak layer, film ini bisa saja terasa overwhelming atau membingungkan. Tapi Yandy Laurens menjaga semuanya tetap clear dan tetap engaging. Setiap sequence punya purpose yang jelas, dan tidak ada satupun yang terasa terbuang percuma.

Scene climax ketika Bagus mengejar Hana, sebuah homage untuk semua airport chase dan grand romantic gesture di rom-com klasik adalah salah satu momen paling memorable dalam semua Romcoms. Yandy Laurens mengeksekusinya dengan sangat indah dipandu oleh akting sempurna dari Sheila Dara yang mengajak kita semua untuk kejar pacar seperti di film-film.


Sinematografi oleh Batara Goempar sangatlah indah. Setiap frame terasa seperti karya seni yang dibuat dengan hati. Penggunaan black and white yang kontras dengan full color bukan hanya distinctive secara visual, tapi juga meaningful dalam konteks cerita. Monochrome sections memiliki quality dreamlike dan romantic yang mengangkat aspek fantasi dari film-dalam-film, sementara color sections terasa lebih grounded dan real.

Camera work sepenuhnya dilakukan dengan tujuan yang tepat. Tidak ada shaky cam yang unnecessary, tapi juga tidak statis. Ada fluidity yang elegant dalam cara kamera bergerak, terutama di scene-scene behind-the-scenes ketika kita melihat proses syuting.

Production design juga detail-oriented. Set untuk lokasi syuting terlihat authentic, props dan costumes mencerminkan karakterisasi dengan baik, dan overall aesthetic consistency terjaga dengan sempurna sepanjang film.

Hal lain yang juga outstanding adalah scoring-nya. Musik original yang diciptakan Ofel Obaja untuk film ini adalah salah satu soundtrack terbaik dalam film Indonesia. Score-nya emotional tanpa manipulatif, memorable tanpa cheesy, dan perfectly timed untuk setiap beat emosional. Ada themes yang recurring yang mengikat berbagai layer cerita.


Jatuh Cinta Seperti di Film-Film adalah film yang sempurna. Ini adalah pencapaian luar biasa dalam perfilman Indonesia, sebuah romansa yang cerdas, menendang emosi penonton, dan secara teknis ciamik. Film ini membuktikan bahwa genre rom-com bisa naik kelas menjadi sesuatu yang keren tanpa kehilangan kekhasannya.

Ini adalah karya yang dibuat karena pembuatnya mencintai sinema dengan tulus, dan kecintaan itu terasa di setiap frame. Dari cara Yandy Laurens menyusun struktur naratif yang kompleks namun accessible, hingga cara dia membiarkan aktor-aktornya deliver performance yang maksimal, semuanya menunjukkan level of craft yang sangat tinggi.

Akting Nirina Zubir adalah Absolute Cinema, sebuah performance yang layak masuk dalam diskusi tentang best acting dalam film Indonesia. Ringgo juga memberikan salah satu performa career-best-nya. Chemistry mereka, dikombinasikan dengan script yang cerdas dan directing yang visioner, menciptakan karya magis yang mungkin sulit dibuat ulang.

Sinematografi dan scoring yang indah, dan production value yang top-tier membuat film ini terasa seperti international-level cinema. Tapi yang paling penting, film ini tetap punya jiwa Indonesia dan cerita yang universal tentang cinta, kehilangan, dan healing.

Yang membuat film ini makin special adalah bagaimana film ini menghormati penonton.  Tidak ada manipulasi emosi yang murahan. Film ini percaya bahwa penonton cukup cerdas untuk mengikuti kompleksitas naratifnya dan cukup dewasa untuk menerima ending yang bukan sekadar happy ever after.

Ini adalah film yang akan kita ingat lama setelah credits roll. Film yang akan membuat kita tertawa, menangis, dan merefleksikan tentang cinta dan kehidupan kita sendiri. Film yang akan membuat kita jatuh cinta lagi, tidak hanya dengan karakternya, tapi juga dengan cinema itu sendiri.

Rekomendasi: Wajib ditonton oleh siapa saja yang mencintai film. Ini adalah masterpiece dalam setiap sense of the word. Baik kamu penikmat rom-com, film enthusiast yang suka meta-narrative, atau simply mencari cerita tentang cinta yang mature dan meaningful, film ini punya semuanya. Jangan skip ini. Ini adalah salah satu film terbaik yang pernah diproduksi Indonesia atau bahkan di dunia ini. Scene kejar pacar seperti di film-film di akhir akan tersimpan di otak kita selamanya. Perfect film yang layak mendapat semua penghargaan yang diraihnya.