ONE BATTLE AFTER ANOTHER (2025)
Leonardo DiCaprio (Bob Ferguson), Sean Penn (Colonel Steven Lockjaw), Benicio del Toro, Regina Hall (Deandra), Teyana Taylor (Perfidia), Chase Infiniti (Willa), Wood Harris (Laredo), Alana Haim
Sutradara: Paul Thomas Anderson | Produser: Warner Bros. Pictures, Ghoulardi Film Company | Genre: Action, Crime, Drama | Durasi: 155 menit | Tanggal Tayang: 26 September 2025
Bob Ferguson, mantan anggota kelompok radikal French 75, dulu membantu imigran menyeberang dari Meksiko ke AS. Setelah kelahiran putrinya, Willa, ia meninggalkan dunia revolusi dan hidup tenang sebagai ayah tunggal, meski masih bergelut dengan paranoia dan kebiasaan lamanya. Namun kedamaian itu hancur ketika musuh lama muncul kembali. Bersama para mantan rekannya, Bob harus menghadapi masa lalunya untuk melindungi Willa dari Colonel Steven Lockjaw, perwira korup yang menyimpan dendam lama.
Berapa lama semangat juang bisa bertahan sebelum akhirnya padam? Apakah semua pengorbanan itu sepadan? Kalau bisa mengulang waktu, apa kita akan tetap memilih jalan yang sama? Pertanyaan-pertanyaan itu jadi inti dari One Battle After Another, karya terbaru Paul Thomas Anderson yang membara di luar politik radikal dan karakter-karakternya yang aneh tapi manusiawi. Durasinya hampir 3 jam, tapi film ini menyala sejak menit pertama dan tak pernah melambat. PTA, seperti biasa, tidak pernah mengecewakan. Dari Boogie Nights, Magnolia, There Will Be Blood sampai Phantom Thread, ia selalu membuat film yang menantang tapi dalam. One Battle After Another meneruskan tradisi itu, penuh keyakinan, energi, dan punya nyawa.
Film-film Paul Thomas Anderson selalu soal karakter. Plotnya sering muncul dari kegagalan, luka, atau kebodohan mereka sendiri. Kadang tragis, kadang lucu, tapi selalu manusiawi. Bob Ferguson adalah contoh sempurna: seorang revolusioner yang keras kepala tapi punya hati lembut.
Perfidia, pasangannya dulu, adalah kebalikannya. Ia hidup demi kebebasan, tapi kebebasan itu juga membuatnya tak bisa diandalkan. Saat Willa lahir, Bob memilih jadi ayah, sementara Perfidia yang tidak punya hati tetap mengejar idealismenya. Bertahun-tahun kemudian, Bob yang kini paranoid dan kecanduan ganja harus kembali menghadapi masa lalunya. Dan ketika dia bertindak, semuanya terasa berantakan tapi tulus, seperti seseorang yang sudah lama lupa caranya berperang, tapi tetap mencoba karena cinta.

Leonardo DiCaprio luar biasa di sini. Performanya terus bergeser antara drama dan komedi, tapi selalu digerakkan oleh paranoia dan keputusasaan yang nyata. Ini adalah penampilan yang menyiksa sekaligus memukau penuh ledakan energi secara fisik seperti di The Wolf of Wall Street, tapi jauh lebih rapuh. Dia tidak takut terlihat bodoh, lemah, atau hancur. Sebagai Bob, dia benar-benar terbuka, bukan pahlawan keren yang punya semua jawaban, tapi seorang ayah yang ketakutan dan kebingungan, berjuang melawan naluri untuk kabur. Ini salah satu penampilan terbaik DiCaprio sejauh ini. Rasanya mustahil kalau dia tidak masuk nominasi Oscar untuk peran ini.
Tapi bintang sesungguhnya di sini justru Sean Penn. Memerankan villain sempurna Colonel Steven Lockjaw, dia berjalan di garis tipis antara mengerikan dan konyol, kadang bikin tegang, kadang hampir absurd. Tapi entah gimana, semuanya works. Penn benar-benar all in. Lockjaw bukan tipe villain yang jahat hanya karena korup. Tapi dia menakutkan karena yakin dia benar. Dan Penn memainkan itu dengan intensitas gila yang bikin tiap adegannya terasa meledak. Performanya aneh, unik, tapi juga luar biasa kuat. Jujur aja, ini salah satu peran Sean Penn paling seru dan Oscar-worthy yang pernah dia mainkan sejak Mystic River.

Benicio del Toro mungkin nggak muncul sebanyak DiCaprio atau Penn, tapi tiap kali dia di layar, energinya selalu terasa. Sebagai mantan anggota kelompok revolusioner, dia bawa kebijaksanaan yang pas banget buat karakternya. Chemistrynya dengan DiCaprio juga luar biasa, beberapa adegan mereka adalah momen paling emosional di film ini. Del Toro mainnya tenang, tapi dalem banget. Totally deserves a supporting Oscar nod.
Regina Hall dan Teyana Taylor juga solid banget, masing-masing memberi warna yang beda buat cerita. Tapi yang paling mencuri perhatian? Chase Infiniti. Debutnya sebagai Willa benar-benar mengejutkan. Dia punya kecerdasan, kekuatan, dan sisi rapuh yang bikin karakter itu jadi pusat emosional film. Gila sih, this kid’s gonna be huge someday.

Paul Thomas Anderson lagi-lagi nunjukin kalau dia emang master. Nggak ada sutradara lain yang bisa menjaga keseimbangan antara drama dan komedi, politik dan personal, ancaman dan absurdity sebaik dia. Setiap adegannya selalu terasa intens, melelahkan, tapi juga luar biasa hidup. Ini film yang benar-benar dibuat oleh kerja keras dari seorang filmmaker yang tahu persis apa yang dia mau. Dan seperti pertanyaan yang dia lempar di awal, apa semua ini worth fighting for? Buat kita yang nonton, jelas iya. Buat karakternya, jawabannya ada di Willa. Dia satu-satunya yang bisa berdamai dengan cacatnya sendiri, dan itu indah banget. Dia masa depan, dan lewat dia, film ini ngasih secercah harapan bahwa mungkin, cuma mungkin, dunia bisa jadi tempat yang lebih baik.
Anderson ngedirect film ini dengan ketepatan dan kepercayaan diri yang gila. Tiap frame terasa disengaja, tiap cut punya tujuan. Dia tidak takut kasih ruang buat untuk cooling down, nggak takut sama keheningan, dan juga nggak takut sama kekacauan. Ada momen tenang yang tiba-tiba disusul kekerasan brutal, tapi transisinya halus banget, seperti hanya PTA yang bisa bikin kayak gitu. Humornya juga khas PTA sejak zaman Boogie Nights, dark, absurd, dan muncul di saat-saat paling tidak terduga. Ada semacam sindiran ke secret societies yang konyol tapi tetap bikin nggak nyaman in the best way possible. Dan bagian akhir? Sebuah car chase di gurun yang ditulis dan diedit dengan jenius. Tegang, emosional, namun tetap indah secara visual. Salah satu ending paling keren yang pernah dibuat PTA

Secara visual, film ini indah dipandang. Mihai Mălaimare Jr. (yang juga berkolaborasi dengan PTA di The Master) memberi sentuhan sinematografi yang penuh tekstur, campuran antara handheld yang intim dan komposisi megah yang bikin tiap adegan terasa hidup. Cahaya alaminya dipakai dengan begitu cantik, terutama di adegan gurun. Warna-warnanya earthy tapi tetap vibrant, seperti dunia nyata yang sedikit lebih sinematik. Framing-nya dinamis tapi tidak ingin terlihat sok keren. Kamera worknya selalu melayani cerita, bukan gaya. Dan production design karya Florencia Martin? Detail banget. Dari rumah Bob yang berantakan tapi tetap terasa hangat, sampai kompleks militer yang kaku dan mengancam, semuanya terasa nyata, seperti tempat yang beneran ada.
Musik dari Jonny Greenwood (kolaborator setia PTA) terasa atmosferik, haunting, dan terus berubah antara keindahan dan ketakutan. Perpaduan string, perkusi, dan elemen elektroniknya bikin suasana film terasa hidup, kadang lembut, kadang bikin dada sesak. Theme yang berulang mengikat semua emosi film dengan halus banget. Ditambah sound design yang detail, dari suara angin gurun sampai dentuman di adegan action semuanya terasa imersif dan nyata. Ini salah satu kolaborasi PTA–Greenwood terbaik sejauh ini.
Sulit rasanya mengatakan jika One Battle After Another adalah PTA di peak formnya karena sejatinya PTA selalu ada di peak form bahkan sejak debutnya di Hard Eight. Namun di film ini PTA memiliki ambisi yang lebih besar, baik dalam skala, berat dalam tema, tapi juga mudah buat diikuti. 3 jam berlalu tanpa terasa karena ritmenya dijaga dengan begitu mulus.
Ini film tentang revolusi, tentang jadi orang tua, tentang legacy, dan tentang konsekuensi dari pilihan yang kita buat. Tapi di balik semua itu, ini film tentang harapan tentang terus berjuang untuk sesuatu yang layak diperjuangkan, bahkan saat dunia kayaknya udah nggak berpihak. Rasanya jarang banget ada film sebesar ini yang juga terasa begitu manusiawi.
Rating: 9/10
Rekomendasi:
Wajib banget ditonton. Ini sinema di level tertinggi, berani, ambisius, dan dieksekusi dengan luar biasa. Buat fans Paul Thomas Anderson, ini jelas must-see. Buat yang suka akting kelas dunia, DiCaprio, Penn, dan del Toro aja udah cukup buat bikin harga tiket nonton 50.000 terasa sangat murah. Kalau kamu cinta film yang punya gaya sekaligus isi, One Battle After Another nggak boleh dilewatkan. Oscar season baru mulai, tapi film ini udah pasang standar setinggi langit. Tonton di bioskop IMAX, dengan suara paling kencang, dan biarkan diri kamu tenggelam sepenuhnya di dunia yang PTA bangun.






Leave a Reply