Review – Pengepungan di Bukit Duri (2025) | Angkat Tema Rasisme dan Pendidikan Dibalut Survival Horror

PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI (2025)

Morgan Oey (Edwin), Omara N. Esteghlal (Jeffrey), Hana Malasan (Diana), Endy Arfian, Fatih Unru, Satine Zaneta, Dewa Dayana, Faris Fadjar Munggaran, Florian Rutters, Farandika, Raihan Khan, Sandy Pradana, Bima Azriel, Sheila Kusnadi

Sutradara: Joko Anwar | Produser: Amazon MGM Studios, Come and See Pictures | Genre: Action, Thriller, Drama | Durasi: 117 menit | Tanggal Tayang: 17 April 2025


Edwin berjanji pada kakaknya sebelum meninggal untuk menemukan anak kakaknya yang hilang sejak lama. Pencarian ini membawanya menjadi guru pengganti di SMA Duri, Jakarta, sebuah sekolah khusus untuk anak-anak bermasalah dengan catatan kriminal. Di tempat ini, Edwin harus menghadapi murid-murid paling beringas dan brutal sambil mencoba mencari tahu siapa sebenarnya keponakannya. Ketika Edwin akhirnya menemukan bocah yang dicarinya, kerusuhan besar melanda kota dan dia terjebak di dalam sekolah bersama murid-murid kejam yang ingin membunuhnya. Dalam pengepungan yang mencekam ini, Edwin harus bertahan hidup sambil melindungi keponakannya dari ancaman mematikan.


Sebetulnya pembukaan filmnya sangat menarik dan menjanjikan, kemudian terjadi lompatan waktu 17 tahun dan di sinilah cerita mulai berantakan. Awalnya film ini tentang rasisme dan segregasi sosial, tapi seiring cerita berjalan, fokusnya semakin bergeser dari tema tersebut ke kekerasan, brutalitas, dan gore yang berlebihan. Joko Anwar jelas mencoba menyampaikan pesan tentang bahaya rasisme dan sistem pendidikan yang gagal, tapi pesan itu tidak sampai dengan kuat karena ending yang terlalu tiba-tiba. Film ini bisa jauh lebih powerful kalau ending-nya memberikan konklusi yang lengkap dan closure yang memuaskan, bukan meninggalkan penonton dengan hal-hal yang tidak dijelaskan.

Yang paling mengganggu adalah bagaimana film ini membuang-buang waktu di satu lokasi, scene di balik pintu yang berlangsung terlalu lama sampai bikin frustrasi. Dimana Edwin dan murid-murid berdebat bolak-balik tentang apakah harus membuka pintu atau tidak, padahal mereka punya waktu untuk mencari jalan keluar lain atau membuat strategi yang lebih baik.


Morgan Oey sebagai Edwin memberikan performa yang solid. Dia berhasil membawa karakter guru yang desperate dan determined dengan meyakinkan, terutama di momen-momen intense ketika dia harus menghadapi murid-murid yang brutal. Ekspresi ketakutan dan determinasinya terasa genuine dan membantu membangun tension di banyak scene. Omara N. Esteghlal sebagai Jeffrey, antagonis utama, menaruh terror dalam cara yang tepat. Dia membawa menace dan unpredictability yang membuat karakternya benar-benar menakutkan. Hana Malasan syang berperan sebagai Diana, seorang guru psikologi, adalah contoh dari sebuah wasted potensial, dia punya ilmu psikologi tapi pengetahuan itu tidak pernah dimanfaatkan dalam cerita. Karakternya hanya ada sebagai love interest untuk Edwin, menunggu diselamatkan dan tidak melakukan apa-apa yang berguna. Kalau dia ditulis sebagai karakter yang kuat, independen, dan bisa berkontribusi dengan keahliannya, dinamika cerita akan jauh lebih menarik. Begitu juga dengan karakter perempuan di bar yang Edwin temui dia muncul dua scene, jelas sebagai kandidat cinta, lalu menghilang selamanya tanpa penjelasan. Kalau karakternya memang tidak penting, lebih baik tidak dimasukkan sama sekali.


Joko Anwar kembali menunjukkan keahliannya dalam crafting suspense dan atmosphere yang mencekam. Keputusan menggunakan shaky cam saat scene bullying membuat kita merasa seperti menonton video dokumenter real, menambah kesan authentic dan disturbing. Transisi antar scene sayangnya sering terasa tidak smooth dan terlalu mendadak. Dari segi visual effects, ada beberapa yang berlebihan terutama efek darah yang muncrat seperti semprotan obat nyamuk ketika seseorang ditusuk dengan pisau, tidak natural dan tidak realistis.

Secara sinematografi, Ical Tanjung memberikan visual yang gritty dan claustrophobic yang pas untuk setting sekolah yang berbahaya ini. Pencahayaan yang redup dan warna yang desaturated menciptakan mood yang oppressive.


Pengepungan di Bukit Duri adalah film yang punya banyak kekuatan tapi juga kelemahan signifikan yang menghalanginya menjadi great thriller. Sebagai pure thriller experience, film ini deliver dengan tension yang real dan aktor-aktor yang berkomitmen. Beberapa scene benar-benar mencekam dan membuat jantung berdebar. Tema tentang rasisme, sistem pendidikan yang gagal, dan kekerasan sistemik adalah relevant dan penting untuk diangkat. Namun eksekusi storytelling-nya tidak konsisten. Cerita yang dimulai dengan fokus pada isu sosial bergeser menjadi survival horror yang penuh kekerasan tanpa resolusi yang memuaskan.

Rekomendasi: Recommended untuk fans thriller psikologis yang tidak masalah dengan kekerasan eksplisit. Film ini punya momen-momen yang genuinely tense dan akting yang kuat, terutama dari Morgan Oey dan Omara Esteghlal. Tapi bersiaplah untuk frustrasi dengan beberapa keputusan naratif, karakter perempuan yang ditulis lemah, dan banyak pertanyaan yang tidak terjawab. Tonton dengan ekspektasi untuk thriller yang intense tapi tidak sempurna dalam storytelling-nya.