SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN (2025)
Dion Wiyoko (Jonathan), Sheila Dara Aisha (Sore), Mathias Muchus (Ayah Jonathan), Goran Bogdan, Livio Badurina, Iva Babic
Sutradara: Yandy Laurens | Produser: Screenplay Films, Temata Studios | Genre: Drama, Romance, Fantasy | Durasi: 115 menit | Tanggal Tayang: 10 Juli 2025
Jonathan adalah pemuda Indonesia yang tinggal sendirian di Kroasia dengan gaya hidup yang destructive, merokok, minum alkohol, dan menjalani hidup tanpa arah yang jelas. Suatu hari, kehidupannya berubah ketika seorang perempuan bernama Sore tiba-tiba muncul dan mengklaim dirinya sebagai istri Jonathan dari masa depan. Sore datang dengan misi khusus: mengubah kebiasaan buruk Jonathan dan memperbaiki gaya hidupnya sebelum terlambat.
Namun Jonathan merasa hidupnya baik-baik saja dan tidak membutuhkan perubahan. Konflik muncul ketika Sore berusaha mengintervensi kehidupannya, Jonathan kini harus menghadapi Sore yang terus mengatakan apa yang harus dia lakukan. Di tengah time loop yang terus berulang, Sore dan Jonathan harus belajar bahwa perubahan sejati hanya bisa terjadi jika datang dari dalam diri sendiri.

Sebagai remake dari web series tahun 2017, film ini mengalami peningkatan kualitas produksi yang sangat signifikan. Setting Kroasia yang indah memberikan backdrop visual yang menyegarkan untuk film romansa Indonesia.
Versi Sore yang diperankan Sheila Dara lebih banyak memberitahu Jonathan apa yang harus dilakukan untuk hidup lebih baik, alih-alih mendorongnya untuk mengambil action sendiri. Ini sebenarnya menjadi motif karakternya di act pertama: sosok yang terus mendikte Jonathan.
Inti cerita sebenarnya cukup solid: tentang bagaimana perubahan hanya bisa terjadi ketika kedua pihak mau bergerak dari sisi mereka masing-masing. Tapi eksekusi naratifnya tidak konsisten dengan pesan yang ingin disampaikan. Jonathan di akhir film masih tetap karakter yang egois, dan ironisnya dia tidak memberikan kesempatan pada ayahnya untuk menjelaskan sesuatu padahal seluruh plot film ini tentang memberi kesempatan kedua.
Film ini juga terlalu panjang untuk cerita yang sebenarnya bisa lebih ringkas. Dengan durasi hampir 2 jam, banyak bagian yang terasa stretched terutama di montage time loop yang berulang-ulang. Beberapa elemen cerita yang seharusnya penting malah tidak dielaborasi dengan baik, sementara bagian lain justru dibuat berlarut-larut.
Dion Wiyoko sebagai Jonathan memberikan performa yang cukup baik. Karakternya sebagai main character sebetulnya terasa agak dan tidak mengalami perkembangan yang berarti sepanjang film. Jonathan di awal adalah pria dengan kebiasaan buruk yang egois, dan Jonathan di akhir masih tetap egois hanya versi yang berhenti merokok dan minum. Tidak ada momen breakthrough yang membuat kita benar-benar percaya dia berubah secara fundamental.
Dion membawakan emosi-emosi frustrasi, bingung, jengkel, tapi tidak ada depth yang lebih dalam. Kita tidak pernah benar-benar mengerti mengapa Jonathan hidup dengan cara yang destructive selain dijelaskan bahwa dia punya daddy issues. Tapi daddy issues itu sendiri tidak dieksplor dengan memadai.
Sheila Dara Aisha menunjukkan kualitasnya kembali pasca memenangkan Piala Citra di film Jatuh Cinta di Film-Film. Menyajikan performance bagus di scene-scene ketika Sore harus restart time loop dengan mimisan dan kepayahan fisik. Yang menarik, Sheila cukup oke saat berbicara dalam bahasa Kroasia dia terdengar tidak awkward dan cukup confident.
Mathias Muchus sebagai ayah Jonathan adalah wasted talent yang nyata. Dia diterbangkan ke Kroasia untuk syuting, tapi karakternya hampir tidak punya dialog yang berarti. Kehadirannya terasa seperti cameo yang tidak maksimal, padahal hubungan Jonathan dengan ayahnya seharusnya menjadi salah satu pilar emosional cerita.

Yandy Laurens yang juga menyutradarai versi web series-nya menunjukkan peningkatan dari segi skala produksi. Secara teknis, film ini jauh lebih baik dibandingkan versi sebelumnya. Tapi peningkatan budget dan production value tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas storytelling.
Yandy Laurens punya visi yang jelas untuk aesthetic film. Tapi kali ini dia kurang kuat dalam character development dan story pacing. Film ini terasa seperti diperpanjang secara artificial untuk mencapai durasi layar lebar, tanpa benar-benar mengisi space tersebut dengan substansi.
Keputusan untuk membuat time loop montage yamg terlalu banyak adalah pilihan yang questionable. Ya, kita mengerti Sore sudah melakukan ini berkali-kali, tapi menunjukkannya berulang-ulang tidak membuat film lebih impactful, justru membuat pacing jadi menyeret.
Bayangkan jika film benar-benar membangun koneksi antara kebiasaan buruk Jonathan dengan masa lalu ayahnya. Itu akan membuat arc Jonathan jauh lebih powerful dan membuat statement Sore tentang “Jonathan tidak lebih baik dari ayahnya karena dia juga ‘meninggalkan’ keluarganya” punya callback yang lebih kuat.
Secara visual, film ini adalah salah satu film yang paling indah dipandang. Lokasi syuting di Kroasia dengan landscape mediterania, arsitektur old town, dan pantai yang stunning memberikan backdrop yang sangat romantic dan berbeda dari film-film Indonesia pada umumnya. Cinematography-nya bersih dengan banyak wide shots yang memanfaatkan keindahan lokasi.
Musik adalah salah satu kekuatan terbesar film ini. Soundtrack yang dipilih sangat emotional dan tepat timing-nya. Scene flashback montage di akhir film begitu bombastis dan memberikan impact yang begitu besar karena kekuatan musik yang mengiringinya. Scoring-nya selalu effective dalam membangun emosi. Pemilihan lagu-lagu untuk beberapa momen key juga on point dan memorable.
Sore: Istri dari Masa Depan adalah film yang akan resonant dengan pasangan menikah atau orang yang sedang dalam long-term relationship. Pesannya tentang bagaimana waktu itu berharga dan kamu tidak bisa memaksa perubahan kecuali itu datang dari dalam diri sendiri, tersampaikan dengan cukup jelas. Sebagai film romansa dengan premis fantasi ringan, menjadi sangat entertaining dan punya beberapa momen yang touching.
Namun sebagai sebuah film dengan durasi hampir 2 jam, ada banyak yang masih bisa diperbaiki. Karakterisasi Jonathan yang stagnan dan tidak berkembang membuat dia menjadi main character yang datar.
Sheila Dara stretched melakukan puluhan time loop montage yang pada akhirnya terasa repetitive dan tidak efisien. Film ini membuktikan bahwa tidak semua cerita perlu diperpanjang menjadi durasi layar lebar. Jika berani membuat film di atas 1.5 jam, pastikan setiap menit terisi dengan substansi dan tidak ada loose ends yang dibiarkan menggantung.
Secara teknis film ini bagus visualnya cantik, musiknya bombastis. Tapi dari segi story resolution dan character development, masih banyak room for improvement. Ini adalah film yang lebih mengandalkan vibe dan aesthetic daripada kedalaman naratif.
Rekomendasi: Film ini cocok untuk penonton yang mencari romansa ringan dengan setting yang indah dan pesan tentang relationship yang relatable. Pasangan atau orang yang suka film tentang second chances akan menikmati ini. Tapi jika kamu mengharapkan character development yang kuat atau resolusi cerita yang memuaskan, ekspektasi perlu diturunkan. Ini adalah film yang lebih tentang feeling daripada storytelling yang tight. Worth watching apalagi final scene ya






Leave a Reply