SUPERMAN (2025)
David Corenswet (Clark Kent/Superman), Rachel Brosnahan (Lois Lane), Nicholas Hoult (Lex Luthor), Edi Gathegi (Mister Terrific), Nathan Fillion (Guy Gardner/Green Lantern), Isabela Merced (Hawkgirl), Anthony Carrigan (Metamorpho), María Gabriela de Faría (The Engineer), Skyler Gisondo (Jimmy Olsen), Sara Sampaio (Eve Teschmacher), Wendell Pierce (Perry White), Pruitt Taylor Vince (Jonathan Kent), Neva Howell (Martha Kent), Beck Bennett (Steve Lombard), Mikaela Hoover (Cat Grant), Christopher MacDonald (Ron Troupe), Alan Tudyk (voice Krypto)
Sutradara: James Gunn | Produser: DC Studios, Warner Bros. Pictures | Genre: Action, Adventure, Sci-Fi | Durasi: 140 menit | Tanggal Tayang: 11 Juli 2025
Superman kembali ke layar lebar sebagai titik awal era baru DC Universe di bawah kepemimpinan James Gunn dan Peter Safran. Film ini mengisahkan perjalanan Clark Kent (David Corenswet) yang berusaha menyelaraskan identitasnya sebagai alien Krypton dengan kehidupan manusianya sebagai jurnalis di Metropolis. Sebagai simbol harapan dan kebenaran, Superman harus menghadapi dunia yang penuh skeptisisme sambil menemukan tempatnya sebagai pahlawan super pertama yang muncul di era modern ini.
Di tengah konflik dengan berbagai ancaman termasuk Lex Luthor (Nicholas Hoult), Clark juga membangun hubungannya dengan Lois Lane (Rachel Brosnahan) dan berinteraksi dengan pahlawan lain seperti Hawkgirl, Green Lantern, dan Mister Terrific yang mulai bermunculan di dunia yang sama.

Film yang ditugaskan untuk kick off seluruh era baru DC Universe ini sebenarnya adalah peningkatan dari era Snyderverse. Tapi apakah cukup baik? Untuk sebagian orang mungkin iya, tapi bagi yang mengharapkan sesuatu yang lebih spesial, hasilnya agak mengecewakan.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak proyek superhero baik film, serial TV, maupun game sepertinya menemukan arah baru yang lebih berfokus pada elemen komedi dan fan service. Bagi sebagian penonton, pendekatan ini justru menghilangkan percikan istimewa yang dulu membuat proyek-proyek superhero terasa memorable dan berkesan.
Superman (2025) sebagai sebuah film secara umum masih oke, dan punya beberapa momen yang bagus. Tapi sebagai film superhero, dan khususnya film Superman, di situlah masalah mulai muncul. Film ini terasa terlalu mirip dengan produk-produk Marvel beberapa tahun terakhir dari tone komedinya, hingga kebiasaan memecah momen emosional dengan lelucon. Tentu ada scene-scene serius, tapi porsinya terlalu sedikit.
Di saat industri sedang mengalami superhero fatigue terparah, ini seharusnya kesempatan emas untuk membuat sesuatu yang berbeda. Sayangnya, film ini tidak melakukan banyak hal untuk memisahkan dirinya dari formula yang sudah terlalu sering kita lihat. Padahal ini Superman, karakter ikonik yang punya bobot berbeda. Tapi yang kita dapatkan lebih terasa seperti film superhero generik, bukan film Superman yang khas.
David Corenswet secara fisik sangat pas sebagai Superman. Dia punya postur dan wajah yang heroik, dan mampu membawakan dualitas Clark Kent dan Superman dengan cukup baik. Performanya cukup ok dimana ada beberapa momen di mana dia berhasil menunjukkan kerentanan Clark, dan karakternya pun diberi cukup ruang untuk benar-benar berkembang secara emosional.
Rachel Brosnahan sebagai Lois Lane membawa energi dan kepercayaan diri yang pas untuk karakter jurnalis investigatif yang tangguh. Chemistry-nya dengan Corenswet terasa natural meski hubungan mereka tidak terlalu dieksplorasi secara mendalam. Nicholas Hoult sebagai Lex Luthor cukup menarik dengan interpretasi yang lebih modern dan calculated, meski karakternya tidak mendapat cukup screen time untuk benar-benar shine sebagai antagonis utama.
Para pahlawan pendukung seperti Nathan Fillion (Green Lantern), Isabela Merced (Hawkgirl), dan Edi Gathegi (Mister Terrific) hadir lebih sebagai cameo yang menghibur daripada karakter dengan arc tersendiri. Mereka memberikan fan service yang menyenangkan tapi tidak terlalu berkontribusi pada cerita inti.
James Gunn sudah membuktikan dirinya sebagai sutradara yang capable dalam menggarap film superhero dari Guardians of the Galaxy hingga The Suicide Squad. Tapi dengan Superman, kesempatan sekali seumur hidup untuk membuat film Superman sesuka hatinya, hasilnya justru terasa terlalu familiar dengan karya-karyanya sebelumnya.
Signature style Gunn yang penuh humor quirky dan soundtrack nostalgic memang hadir di sini, tapi pendekatan itu tidak selalu cocok untuk karakter seperti Superman yang secara tradisional membawa tone yang lebih serius dan inspirasional. Ada momen-momen di mana film berusaha menjadi epic dan emosional, tapi momentum tersebut sering terpotong oleh joke atau lighter moment yang tidak perlu.
Pacing film juga terasa tidak merata. Act pertama terlalu lambat dengan terlalu banyak setup untuk karakter-karakter pendukung, sementara act ketiga terburu-buru dengan aksi yang kurang impactful. Gunn sepertinya lebih fokus membangun universe daripada menceritakan kisah Superman yang solid dan standalone.
Aspek visual adalah salah satu kelemahan terbesar film ini. Tidak ada identitas visual yang kuat atau look yang distinctive sebagian besar film terlihat seperti The Flash dengan color grading yang flat dan kurang karakter. Banyak scene yang terasa seperti iklan atau tampilan yang kusam dengan kurangnya kehangatan warna.
Yang mengejutkan, serial Smallville dari 20 tahun lalu terasa punya look yang lebih hangat dan artistic dibandingkan film besar budget ini. Metropolis tidak terasa seperti kota yang hidup, melainkan lebih seperti generic CGI city yang kita sudah lihat berkali-kali.
Sinematografi juga menjadi masalah. Terlalu banyak penggunaan close-up, dan pergerakan kamera yang shaky yang sayangnya bisa dimaklumi mengingat ini dikerjakan oleh cinematographer yang sama dengan The Flash. Ironisnya, bahkan serial TV The Flash punya lebih banyak momen sinematik yang memorable dibandingkan apa yang ditampilkan di film ini.
Dari sisi musik cukup ok di beberapa bagian dan tidak terlalu mengandalkan orkestra bombastis yang berlebihan. Tapi film ini tidak menemukan tema musiknya sendiri dan lebih banyak mengandalkan aransemen ulang dari tema John Williams yang ikonik. Sayangnya, kemungkinan besar orang tidak akan mengingat score dari film ini dalam jangka panjang sesuatu yang cukup disayangkan untuk film Superman.
Superman (2025) adalah film yang akan dinikmati oleh banyak orang, terutama fans casual yang mencari hiburan superhero standar. Tapi apakah ini film yang akan meninggalkan dampak yang sama seperti Superman (1978)? Kemungkinan besar tidak.
Film ini terasa aman, terlalu nyaman dengan formula yang sudah established, dan tidak berani mengambil risiko untuk membuat sesuatu yang benar-benar spesial. James Gunn yang sudah berpengalaman menggarap banyak film superhero sebelumnya, punya kesempatan sekali seumur hidup untuk membuat film Superman sesuai visinya, tapi yang dihasilkan justru sangat mirip dengan film-film yang sudah dia buat dan yang sudah kita lihat dalam 10 tahun terakhir.
Ketika sutradara manapun punya kesempatan menggarap karakter se-ikonik Superman, ekspektasinya bukan hanya sekadar film superhero yang bagus, tapi film Superman yang memorable. Sayangnya, Gunn tampaknya lebih fokus deliver film superhero daripada film Superman yang sejati.
Secara teknis film ini kompeten, tapi kurang soul. Secara visual film ini expensive-looking tapi tidak artistic. Secara naratif film ini entertaining tapi tidak impactful. Ini bukan tipe film yang akan membuat orang memasang posternya di dinding kamar atau mengingatnya sebagai momen penting dalam sejarah film superhero.
Rekomendasi: Film ini cocok untuk penonton yang ingin menikmati hiburan superhero ringan dengan humor dan aksi yang cukup menghibur. Jika kamu fans DC Universe dan ingin melihat setup untuk film-film mendatang, ini worth to watch. Tapi jika kamu mengharapkan film Superman yang epic, inspirasional, dan memorable seperti karya-karya klasik, mungkin ekspektasi perlu diturunkan.






Leave a Reply