TRON: ARES (2025)
Jared Leto (Ares), Greta Lee (Eve Kim), Evan Peters (Julian), Jodie Turner-Smith, Hasan Minhaj, Arturo Castro, Cameron Monaghan, Gillian Anderson, Jeff Bridges (Kevin Flynn)
Sutradara: Joachim Rønning | Produser: Walt Disney Pictures, Apparatus Pictures | Genre: Action, Adventure, Sci-Fi | Durasi: 119 menit | Tanggal Tayang: 10 Oktober 2025
Ares adalah program AI canggih yang diciptakan di dalam dunia digital The Grid. Ketika dia dikirim ke dunia nyata untuk menjalankan misi rahasia, Ares harus beradaptasi dengan kompleksitas kehidupan manusia yang tidak pernah dia pahami sebelumnya. Di tengah perjalanannya, dia bertemu dengan Eve Kim, seorang programmer komputer yang skeptis terhadap artificial intelligence. Bersama-sama mereka harus menghadapi ancaman dari korporasi teknologi yang ingin mengeksploitasi kekuatan The Grid untuk tujuan yang berbahaya. Ares harus memilih antara menyelesaikan misinya atau melindungi umat manusia dari bahaya yang dia sendiri bawa ke dunia nyata.

Setelah 15 tahun sejak Tron: Legacy, franchise ini akhirnya kembali dengan pendekatan yang berbeda dari dua film sebelumnya. Joachim Rønning mencoba membawa Tron ke arah baru dengan membalikkan premis, bukannya manusia masuk ke dunia digital, kini program AI yang keluar ke dunia nyata. Konsepnya menarik dan sangat relevan dengan isu AI yang sedang hangat saat ini. Sayangnya, eksekusinya tidak sekuat idenya. Cerita terasa generic dan predictable, mengikuti formula sci-fi tentang AI yang belajar tentang kemanusiaan yang sudah kita lihat berkali-kali. Tidak ada twist yang mengejutkan atau eksplorasi filosofis yang dalam tentang consciousness, identitas, atau hubungan manusia dengan teknologi. Semua terasa surface level dan tidak meninggalkan impact emosional yang berarti. Yang paling disayangkan adalah film ini kehilangan soul yang membuat franchise Tron special, sense of wonder tentang dunia digital, visual yang groundbreaking untuk zamannya, dan tema tentang pemberontakan melawan sistem. Tron: Ares terasa seperti film sci-fi action biasa yang kebetulan memakai brand Tron, bukan kelanjutan yang organic dari universe yang sudah dibangun.
Jared Leto sebagai Ares adalah highlight utama film ini. Leto, seperti biasa, selalu memberikan komitmen penuh untuk perannya, dan itu harus diapresiasi. Dia selalu all-in di setiap project, tidak peduli genre atau skala filmnya. Di sini, Leto membawa intensitas dan fokus yang membuat Ares terasa believable sebagai program AI yang belajar tentang emosi manusia. Ada nuance dalam performanya, terutama di momen-momen ketika Ares mengobservasi dan meniru perilaku manusia. Leto punya potensi besar untuk role ini, dan dia deliver lebih baik dari apa yang script berikan padanya. Greta Lee sebagai Eve Kim solid dan grounded, providing necessary human anchor untuk karakternya Leto. Chemistry mereka decent meskipun tidak terlalu memorable. Evan Peters, Jodie Turner-Smith, dan Hasan Minhaj hadir dengan supporting roles yang sayangnya tidak terlalu developed, mereka ada untuk menggerakkan plot tapi tidak punya character depth yang cukup. Cameo Jeff Bridges sebagai Kevin Flynn adalah fan service yang ok, meski screen time-nya sangat minimal dan tidak terlalu berkontribusi ke cerita utama beyond nostalgia factor.
Joachim Rønning yang sebelumnya mengerjakan Pirates of the Caribbean: Dead Men Tell No Tales menunjukkan bahwa dia capable dalam menghandle big-budget spectacle. Secara visual, dia deliver. Tapi dari segi storytelling dan emotional depth, ada yang kurang. Pacing film tidak merata dengan act pertama yang terlalu lambat dalam setup dan act ketiga yang terburu-buru dalam resolusi. Karakterisasi juga lemah, kita tidak benar-benar care tentang apa yang terjadi pada characters karena mereka tidak diberi cukup ruang untuk berkembang atau connect dengan audience. Action sequences dikoreografi dengan baik tapi tidak ada yang iconic seperti light cycle races atau disc battles dari film-film sebelumnya. Semuanya terasa safe, tidak ada risk-taking yang membuat film ini menarik
Secara visual dan teknis patut diapresiasi. CGI dan efek visualnya adalah state-of-the-art dengan desain futuristik yang sleek. Ketika Ares berada di The Grid, visual-nya breathtaking dengan neon glow yang iconic dan geometric landscapes yang memukau. Transisi antara dunia digital dan dunia nyata handled dengan seamless, dan production design untuk kedua world sangat detailed. Cinematography oleh Jeff Cronenweth memberikan kontras yang bagus antara coldness dari digital world dan warmth dari dunia nyata. Namun semua keindahan visual ini tidak bisa menutupi fakta bahwa ceritanya agak busuk. It’s style over substance dalam bentuk yang paling literal.
Musik oleh Nine Inch Nails (Trent Reznor dan Atticus Ross) adalah salah satu dari sedikit aspek yang ok. Score-nya atmospheric, pulsating, dan perfect untuk tone film. Mereka berhasil membawa industrial electronic sound yang fits perfectly dengan aesthetic Tron sambil juga membawa signature sound mereka. Tapi bahkan score yang bagus tidak bisa fully elevate material yang mediocre.
Tron: Ares adalah film yang gorgeous tapi soulless. Secara visual dan teknis CGI keren, production design on point, dan musik excellent. Tapi semua technical prowess ini tidak bisa menutupi kekosongan naratif di intinya. Ceritanya generic, character development minimal, dan tidak ada emotional core yang membuat kita truly invested. Jared Leto memberikan yang terbaik dan menunjukkan potensi besar untuk role ini, tapi dia tidak bisa menyelamatkan script yang lemah.
Untuk generasi baru yang belum pernah nonton Tron sebelumnya, ini mungkin entertaining sebagai sci-fi action spectacle, tapi tidak akan meninggalkan lasting impression. Cameo Jeff Bridges adalah nice touch untuk nostalgia, tapi tidak cukup untuk membuat film ini feel like proper continuation dari legacy yang sudah dibangun.
Rekomendasi: Tonton kalau kamu suka visual effects yang spektakuler atau penggemar Jared Leto yang ingin melihat performanya. Juga worth it kalau kamu memang fans yang sudah nonton dua film Tron sebelumnya. Tapi kalau kamu mencari sci-fi dengan cerita yang kuat atau character development yang dalam, ini bukan pilihan yang tepat. Ini adalah popcorn entertainment yang pretty to look at tapi forgettable setelahnya. Lower your expectations dan nikmati sebagai visual spectacle semata.






Leave a Reply