Review – Wake Up Dead Man: a Knives Out Mystery

WAKE UP DEAD MAN: A KNIVES OUT MYSTERY (2025)

Daniel Craig (Benoit Blanc), Josh O’Connor (Father Jud Duplenticy), Josh Brolin (Monsignor Jefferson Wicks), Glenn Close (Martha Delacroix), Mila Kunis (Chief Geraldine Scott), Jeremy Renner (Dr. Nat Sharp), Kerry Washington (Vera Draven), Andrew Scott (Lee Ross), Cailee Spaeny (Simone Vivane), Daryl McCormack (Cy Draven), Thomas Haden Church (Samson Holt)

Sutradara: Rian Johnson | Produser: Rian Johnson, Ram Bergman (T-Street) | Genre: Misteri, Drama | Durasi: 144 Menit | Tanggal Tayang: 26 November 2025 (Bioskop), 12 Desember 2025 (Netflix)


Benoit Blanc kembali beraksi, menukar hangatnya Yunani dengan cold mystery di “Our Lady of Perpetual Fortitude,” sebuah gereja terpencil di New York. Kasus bermula saat Monsignor Jefferson Wicks, pemimpin karismatik yang manipulatif, tewas secara tak masuk akal di ruang terkunci tepat ketika kebaktian Jumat Agung berlangsung. Insiden locked-room mystery ini langsung menyudutkan Father Jud Duplenticy, pastor muda yang selama ini vokal menentang Wicks. Bersama Chief Geraldine Scott, Blanc kini harus membedah apa yang terlihat sebagai “kejahatan sempurna,” menyingkap busuknya korupsi dan kepalsuan iman yang bersembunyi di balik wajah-wajah alim para jemaat.


 

Rian Johnson membuktikan kalau dia belum kehabisan bensin buat franchise ini. Wake Up Dead Man punya feel yang kontras banget dibanding dua pendahulunya. Kalau Knives Out kental sama drama keluarga yang chaotic dan Glass Onion itu vacation murder mystery yang bombastic, film ketiga ini justru banting setir ke locked-room mystery yang lebih suram, intim, dan surprisingly emosional.

Paling salut sama keberanian Rian Johnson masuk ke ranah organized religion. Ini tema yang tricky dan gampang banget kepeleset, tapi eksekusinya di sini rapi dan penuh nuansa. Filmnya tajam banget menguliti korupsi institusi gereja mulai dari kemunafikan sampai manipulasi kekuasaan, tanpa terasa sinis atau anti-agama. Lewat karakter Father Jud, film ini berhasil memisahkan mana kritik buat sistem yang bobrok dan mana respek buat spiritualitas yang tulus. Balance-nya cakep.

Johnson juga berhasil menggali tema yang lebih dalam soal grace, penebusan dosa, dan esensi pengabdian. Ada bobot emosi yang nggak disangka-sangka buat ukuran drama misteri yang diselipi komedi, film ini punya “nyawa”, bukan cuma sekadar tebak-tebakan “siapa pelakunya”. Keseimbangan antara kritik pedas dan empati buat karakter yang tulus berbuat baik itu jadi salah satu pencapaian terbaik di sini.

Sebagai sajian misteri, film ini beneran engaging sampai detik terakhir. Johnson mengadopsi format klasik impossible crime dengan eksekusi brilian. Ruang terkunci, saksi banyak, tapi nol jejak. Kita dibuat mikir keras, “Gimana caranya coba?”

Yang bikin asik, Johnson main adil sama penonton. Semua clue sebenernya udah disebar di depan mata, halus tapi jelas. Rasanya memuaskan banget pas bisa nangkep detail kecil dan nyusun teori sendiri. Tapi khas Johnson banget, tepat saat kamu merasa udah memecahkan kasusnya, dia bakal melempar twist yang merombak total pemahamanmu.

Humornya juga on point. Johnson tau persis kapan harus menyelipkan komedi buat memecah ketegangan tanpa merusak suasana dark-nya. Lawakannya mengalir natural, entah dari situasi absurd atau dialog yang witty, Meski begitu nggak bikin kasus utamanya jadi terasa sepele.

Sayangnya, film ini nggak lepas dari dosa. Kekurangan paling fatal ada di subplot politik yang kerasa banget “tempelan”. Ide masukin politisi gagal yang cari panggung di gereja terpencil rasanya agak maksa dan nggak logis. Saya sendiri mengerti Johnson mau nyentil soal gimana agama sering ditunggangi politik, tapi eksekusinya malah bikin cerita jadi kikuk.

Kelihatan banget Johnson seperti merasa punya kewajiban buat nyelipin komentar sosial-politik kayak di film-film sebelumnya, padahal ceritanya udah terlalu padat. Bahas isu agama aja udah sensitif dan berat, ditambah politik malah bikin bloated. Harusnya film ini fokus aja ngebabat habis soal korupsi gereja dan penebusan dosa, nggak usah ribet sama intrik politik yang nanggung.

Masalah pacing juga jadi ganjalan. Di babak pertengahan, alurnya agak dragging dan bertele-tele. Pas masuk ke reveal akhir, meski twist-nya dapet, penjelasannya terlalu talky. Kesannya seperti takut penonton nggak paham, jadi semuanya dijabarkan lewat dialog yang kepanjangan.


Daniel Craig masih asik banget berperan sebagai Benoit Blanc. Kelihatan jelas dia enjoy total memerankan karakter ini, dan energinya nular ke penonton. Di film ini, Blanc memang terasa sedikit lebih serius dan emosional karena kasusnya cukup personal buat dia, tapi tenang saja, pesona teatrikal dan kecerdasannya yang jenaka tetap ada dan selalu asik buat ditonton.

Tapi harus diakui, bintang utamanya kali ini justru Josh O’Connor sebagai Father Jud. Performanya luar biasa. Dia berhasil membawakan karakter pastor muda yang tulus, rapuh, dan punya moral kuat tanpa jadi membosankan. Kita bisa ngerasain banget frustrasinya dia yang ingin berbuat benar tapi terus-terusan kegencet sama korupsi di sekitarnya. Range aktingnya gila, bisa lucu, sedih, sampai marah yang benar-benar ngena. Dinamikanya bareng Craig beneran jadi nyawa film ini, dua orang dengan metode beda tapi sama-sama ngejar kebenaran.

Josh Brolin juga tampil solid sebagai Monsignor Wicks. Walaupun durasi tampilnya singkat (mengingat dia korbannya), dia berhasil jadi villain yang memikat. Auranya dapet banget sebagai “penipu berkedok agama” yang menyebalkan tapi punya karisma aneh yang bikin orang tunduk.

Lalu ada Glenn Close sebagai Martha yang beneran jadi scene-stealer. Tanpa spoiler, karakter dia punya banyak lapisan yang terungkap pelan-pelan. Close mainin perannya dengan presisi kelas kakap, bisa kelihatan agak gila tapi di momen lain malah bikin simpati.

Mila Kunis ngasih energi yang lebih grounded sebagai kepala polisi yang skeptis tapi profesional. Deretan cast lain seperti Cailee Spaeny, Kerry Washington, Andrew Scott, Jeremy Renner, sampai Thomas Haden Church juga punya momen bersinar mereka sendiri. Memang sih, dengan cast sebanyak ini, ada beberapa karakter yang rasanya kurang dalam digali, tapi secara keseluruhan chemistry mereka sangat bagus. Johnson sukses membangun suasana di mana semua aktornya kelihatan nyaman dan all out, baik pas adegan komedi maupun saat momen serius.


Secara visual, Wake Up Dead Man tampil memukau. Sinematografinya sukses menangkap atmosfer upstate New York yang suram namun cantik, dengan pencahayaan di dalam gereja yang menciptakan nuansa sakral sekaligus eerie. Palet warnanya sengaja dibuat lebih muted dan earthy, kontras banget sama Glass Onion yang vibrant, didukung pergerakan kamera yang efektif menonjolkan isolasi para karakternya tanpa perlu banyak gaya.

Desain produksinya juga dibuat sangat detail. Gerejanya terasa hidup, tua, dan authentic. Nggak ketinggalan kostum Benoit Blanc garapan Jenny Eagan yang tetap impeccable dan stylish. Terakhir, score gubahan Nathan Johnson berhasil membangun ketegangan tanpa berisik. Film ini juga dijahit rapi oleh editing Bob Ducsay yang meski ada sedikit drag tapi pintar memainkan ritme untuk mengecoh penonton.


Wake Up Dead Man membuktikan kalau franchise ini masih relevan dan “nendang”. Kasusnya compelling, penuh twist cerdas yang bikin kita terus menebak sampai akhir.

Kekurangan hanya di subplot politik yang diselipkan terasa maksa dan nggak perlu, malah mengganggu fokus tema religius yang sudah kuat. Pacing di pertengahan agak tersendat, dan konklusinya terasa terlalu over-explained, kurang show, don’t tell. Beberapa karakter pendukung potensial juga sayang banget kurang dapet eksplorasi mendalam.

Tapi di luar kekurangan itu, ini adalah sekuel yang berani dan nggak main aman. Johnson sukses menyajikan tontonan yang menghibur sekaligus bikin mikir. Bagi penggemar misteri yang butuh tontonan cerdas dan berkualitas, film ini jelas wajib tonton.

Rating: 8/10

Rekomendasi: Buat kalian yang ngikutin franchise Knives Out atau sekadar penikmat genre misteri, film ini hukumnya wajib tonton. Whodunit-nya cerdas, digarap rapi, dan punya jajaran akting kelas satu, terutama Josh O’Connor yang beneran mencuri panggung dari Daniel Craig yang tetap ikonik. Memang ada sedikit ganjalan di subplot politik yang maksa dan pacing yang kadang kendor, tapi itu cuma kerikil kecil untuk film sekeren ini. Saran saya, tonton secepatnya agar tidak kena spoiler, dan nikmati sensasi menebak-nebak kasus impossible crime ini sampai detik terakhir.